Minggu, 02 Maret 2014

L#66:  Fungsi Yang Tidak Bisa Didelegasikan
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Salah satu keterampilan yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah ‘mendelegasikan’. Tanpa kemampuan mendelegasikan maka seorang pemimpin akan diperbudak oleh pekerjaan-pekerjaan teknisnya. Tengok saja contoh disekitar kita. Berapa banyak manager yang masih mengerjakan tugas yang mestinya diselesaikan oleh anak buahnya? Berapa banyak juga direktur yang masih disibukkan oleh urusan-urusan kecil. Padahal, fungsi mereka mestinya lebih banyak menangani aspek-aspek strategis. Setiap pemimpin memang mesti membangun kemampuan anak buahnya sampai pada level ‘handal’. Jika tidak, maka mereka tidak akan bisa mendelegasikan. Sekalipun demikian, ada satu fungsi pemimpin yang sama sekali tidak bisa didelegasikan. Meskipun kita punya anak buah yang sangat mumpuni. Tahukan Anda fungsi apakah itu?
 
Ingat kembali ketika pekerjaan Anda sedang banyak-banyaknya. Lalu Anda melihat bahwa ada beberapa tugas yang bisa dikerjakan oleh anak buah Anda. Maka, Anda memilih tugas-tugas tertentu yang boleh dan bisa dikerjakan oleh anak buah Anda. ‘Boleh’ dalam pengertian tidak melanggar batasan otoritas, atau tingkat ‘confidentiality’-nya rendah. Mengapa begitu? Karena ada tugas-tugas tertentu yang hanya level kita yang boleh tahu. Hal itu berkaitan dengan rahasia perusahaan, atau aspek-aspek lain yang sudah menjadi konsensus untuk hanya diketahui oleh jabatan atau tingkatan tertentu.
 
‘Bisa’ dalam pengertian tidak melampaui batas kemampuan anak buah. Mengapa begitu? Karena tugas-tugas yang didelegasikan tidak sesuai dengan kemampuan anak buah hanya akan menimbulkan banyak masalah. Hal itu mudah dipahami secara kognitif. Tetapi pada kenyataannya cukup banyak juga atasan yang ‘mendelegasikan’ tanpa mempertimbangkan kemampuan anak buahnya. Dan ketika timbul masalah, anak buahnyalah yang dipersalahkan. Padahal, pendelegasian itu sama sekali bukanlah ‘pengalihan tanggungjawab’. Setiap tugas yang didelegasikan, tetap menjadi tanggungjawab atasan. Sehingga baik buruknya menjadi tanggungjawab dirinya. Oleh karenanya, pendelegasian itu mesti diberikan kepada anak buah yang mampu menyelesaikannya dengan kualitas pekerjaan sesuai standar kita.
 
Bayangkan Anda mempunyai anak buah yang perlu meningkatkan kemampuannya dalam suatu aspek tertentu. Lalu Anda meminta seorang karyawan senior yang sudah jago dibidang itu untuk melatih mereka. Maka Anda tidak perlu turun tangan untuk melatihnya langsung kan? Anda juga bisa mengundang pelatih dari luar perusahan untuk menjalankan fungsi itu kan? Untuk semua hal teknis, Anda bisa mencari orang yang tepat untuk mendelegasikan. Dalam konteks dan lingkup tertentu, beberapa hal strategis pun bisa didelegasikan asal sesuai dengan batasan otoritas orang yang mendapatkan pendelegasian itu.
 
Sekarang, coba bayangkan. Anda mempunyai anak buah yang membutuhkan figur keteladanan. Kita sudah sejak lama paham bahwa salah satu aspek yang paling sering hilang dalam konteks kepemimpinan kita adalah; lemahnya keteladanan. Atasan bisa dengan mudah menyuruh ini atau itu. Tapi mereka sendiri tidak melakukannya. Boss bisa menuntut anak buahnya untuk berdisiplin soal ini dan itu. Tetapi, perilakunya sehari-hari jauh dari nilai-nilai kedisiplinan seperti yang dituntutnya dari orang lain. Banyak fenomena seperti itu kan sekarang.
 
Pertanyaannya adalah; apakah kita bisa mendelegasikan perilaku baik itu kepada salah seorang anak buah terbaik kita? Misalnya, kita punya satu anak buah yang kerjanya bagus. Disiplinnya juga bagus. Apakah kita pantas mengatakan; “Saudara-saudara, contohlah Mr. A ini dalam soal disiplin…” Padahal kita sendiri tidak tidak punya kedisiplinan yang baik? Tentu tidak pantas. Malahan, kata-kata kita hanya akan menimbulkan cemoohan dalam hati anak buah. Didepan mata kita mungkin mereka patuh mendengar. Tapi dibelakang? Boleh jadi mereka menggunjingkan diri kita bersama teman-teman yang lainnya.
 
Hal ini menunjukkan bahwa ada satu fungsi kepemimpinan yang tidak bisa didelegasikan kepada siapapun. Fungsi apakah itu? Fungsi KETELADAN, tidak bisa didelegasikan. Mesti kita sendiri yang menunjukkan keteladanan kepada semua orang yang kita pimpin. Tidak gampang memang untuk menjadi teladan bagi anak buah kita. Karena kita dituntut untuk menjadi pribadi yang memiliki keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Karena tidak gampang itu, maka hanya sedikit pemimpin yang seperti itu. Karena tidak gampang itu, maka pemimpin yang bisa menunjukkan keteladanan dengan baik selalu menjadi pemimpin yang dihormati oleh anak buahnya. Pemimpin yang bukan hanya ditakuti, melainkan dituruti dan diikuti. Mengapa begitu? Karena sudah menjadi sifat manusia untuk menaruh hormat kepada pribadi yang memiliki integritas tinggi.
 
Untuk menjadi seorang teladan, kita tidak perlu menjadi pribadi yang sempurna. Karena kesempurnaan bukanlah milik manusia. Maka seorang pemimpin yang memberikan keteladanan bagi anak buahnya adalah pemimpin yang sadar bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan. Namun dia terus menerus melakukan perbaikan pribadi. Inilah yang dilihat oleh anak buahnya. Inilah yang menjadikannya layak untuk diteladani orang-orang yang dipimpinnya. Inilah, orang yang layak dipatuhi oleh para pengikutnya. Dan inilah; pribadi yang disayangi Ilahi. Sehingga soal keteladan ini, tidak bisa didelegasikan kepada orang lain.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 19 Desember 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Untuk menjadi teladan bagi anak buah tidak mesti menjadi pribadi sempurna. Cukup dengan melaksanakan apa yang kita perintahkan kepada orang lain. Supaya orang bukan hanya mendengar kata-kata kita. Melainkan melihat kita menerapkannya dalam keseharian kita sendiri.

Sabtu, 01 Maret 2014


Profil Entrepreneur
Iwan Sunito, pengusaha Indonesia yang sukses besar di Sydney



Iwan Sunito adalah warga Indonesia yang sukses membangun kerajaan bisnisnya di Australia. Lini usaha utamanya adalah Crown International Holding Groups, sebuah perusahaan bidang properti, spesialis membangun apartemen.

Iwan yang lahir dan besar di Surabaya, Jawa Timur, memilih merantau pada 1984 untuk belajar arsitektur di Universitas New South Wales Australia. Selepas kuliah, dia bekerja serabutan menggambar desain gedung.

Dia mengaku, sejak kecil memang gemar menggambar. Terkadang, tak dibayar pun Iwan tetap mengerjakan proyek desain tersebut.

"Saya gambar proyek orang lain, dibayar enggak dibayar tidak masalah, karena saya memang suka dengan properti," ungkapnya di sela-sela acara Konferensi Diaspora Indonesia ke-II, Senayan, Jakarta, Selasa (20/9).


Setelah periode serabutan, dia sempat dua tahun bekerja di Cox Richardson Architects. Tugasnya menjadi tukang gambar desain bangunan. Iwan sempat merasakan jenuh, karena karirnya terkesan mentok.

"Saya sempat merasa, ini 5 tahun menggambar kok enggak ada dampaknya, tapi saya percaya satu hal, kerja keras, lalu kerja cerdas. Saya jaga pikiran saya untuk tetap besar, cita-cita besar, meski saya mulai dengan pekerjaan kecil," ungkap pria kelahiran Juli 1966 ini.

Pada 1994, dia memberanikan diri membuka usaha sendiri, yaitu Crown Group. Proyek yang dia dapat adalah merancang hunian mewah di Kawasan Rose Bay, Sydney, dengan kontrak 500.000 dolar Australia.

Dari situ Iwan pelan-pelan merintis usaha propertinya semakin besar. Kerja kerasnya sekarang menuai hasil. Tahun ini saja, dari Sydney, dia telah meraup laba Rp 15 triliun.

Masih ada kesempatan meraup Rp 30 triliun tambahan dari proyek penggarapan apartemen. Di Indonesia, Iwan bersiap membangun 4 apartemen dan gedung tinggi senilai Rp 100 triliun.

Crown Group kini ditaksir memiliki total aset USD 3 miliar. Iwan mengaku dalam waktu dekat ingin mengantar perusahaannya melantai di bursa Negeri Kanguru itu.

Soal kunci suksesnya, Iwan berpesan bahwa sejarah hanya mengenal pemenang. Karena itu, dia memacu diri menjadi orang nomor satu di bidang yang dia cintai yaitu properti.

"Enggak ada yang ingat orang kedua mendarat di bulan. Pemenang pasti punya spirit tidak mudah menyerah," kata pria yang memegang gelar S2 bidang manajemen konstruksi ini.

Kini Iwan membuktikan janjinya 'pulang kampung' ke Indonesia lewat proyek di Jakarta yang sedianya mulai dijalankan akhir tahun ini. Pria yang masih fasih berbahasa Jawa logat Suroboyoan ini mengaku masih mencintai Indonesia walau mencari rezeki di Australia.

Kebetulan kakaknya, Nisin Sunito, juga pengusaha sukses di negara itu. Bisnis saudara kandungnya adalah peternakan sapi yang sangat besar.

Iwan dan Nisin saat ini ditawari pemerintah untuk kembali ke Indonesia. Iwan mengaku sanggup dan akan mengusahakan mencari koneksi agar pengusaha dalam negeri terbantu memasarkan produk-produknya, terutama ke Australia.

"Kita ini bukan kabur dari Indonesia, tapi menjaring koneksi ekonomi untuk Indonesia," tandasnya.


Meski sempat tidak naik kelas saat sekolah SMA di Surabaya, Iwan Sunito, sukses menjadi pemilik perusahaan properti besar di Australia.
CEO Crown Internasional Holding Group tersebut termasuk orang keturunan Indonesia yang sukses di negara orang. Ia masuk dalam komunitas Diaspora Indonesia.

Diaspora Indonesia adalah warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di luar negeri karena belajar, bekerja atau berbisnis, orang Indonesia yang sudah berganti menjadi warga negara setempat, atau orang keturunan Indonesia karena pernikahan orang Indonesia dengan orang asing, maupun orang asing yang cinta dengan Indonesia. 

Nah, bagaimana kisahnya hidupnya sampai ia bisa sukses di Negeri Kangguru? Berikut, petikan wawancara wartawanVIVAnews, Alfin Tofler dan Antique, dengan Iwan Sunito ketika berada di Jakarta, beberapa waktu lalu:

Bisa diceritakan bagaimana Anda merangkak dari nol?

Hidup saya is fortunate life, hidup yang beruntung banget. Lahir di Surabaya, tinggal di Kalimantan. Rumah sederhana sekali terbuat dari kayu.

Pengalaman yang indah. Tidak ada anak kota yang merasakan berenang di sungai yang dalam, adem, yang ada buayanya. Pengalaman malam-malam mencari udang, dengan menggunakan tombak. Pengalaman indah seperti lari-lari di bawah hujan, karena Kalimantan kan hujan tropikal. Rent forest. Kalimantan Tengah. Pangkalan Bun, it is really beautiful.

Pengalaman dari Mama. Orang tua merintis dari bawah. Dari kerja sama dengan orang, jualan kue. Mama begitu, papa juga begitu. Building business sendiri. It s a good experience.

Bagaimana kisah Anda saat sekolah?

Dulu sekolah saya berantakan. Tidak tahu kenapa. Saya rasa, karena gurunya kurang bagus… hahahaha. Aku bilang, kalau satu tahun ngga bagus sekolahnya, mungkin karena lingkungan. Kalau dua tahun, gara-gara gurunya. Kalau 10 tahun, memang yang bodoh dirinya... hahaha.

Saya tidak tahu kenapa sekolah saya berantakan dari SD, SMP, SMA. Lalu menjadi buntut-buntut. Padahal saya bukan orang nakal. Tapi saya rasa, mungkin karena lingkungan saya tidak mendukung. Teman-teman saya bukan achiever. Teman-teman saya orang-orang yang selalu nyalahin guru, kalau nilainya tidak bagus. "Wah gurunya sentimen sama saya, kalau saya tidak naik kelas," ujar mereka.

Saya tidak naik kelas, saat SMA kelas dua. Pada saat teman-teman saya reuni, saya ditanya teman-teman SMA Sin Lui Surabaya, kamu lulusan mana ya?

Memang saya tidak pernah lulus, saya bilang. Karena setelah tidak naik kelas, saya lanjut satu tahun lagi di sekolah lain, lumayan nilai saya cukup baik. Setelah itu, saya pindah ke Australia. Saya bertekad mau berubah. Ijazah saya di Australia.

Kenapa sampai pindah ke Australia?

Karena orang tua saya memang menginginkan anak-anaknya sekolah ke luar negeri. Mereka investasi, menyekolahkan anak ke luar negeri. Orang tua saya masih di Surabaya, merintis bisnis. Masih bisnis kecil sekali. Di Sydney, saya bersama kakak saya, yang lebih dahulu ke Australia satu tahun sebelumnya. 

Jadi Anda lebih banyak sekolah di Australia?

Di Kalimantan saya sampai SD. 12 tahun di Kalimantan. Setelah itu pindah ke Surabaya SMP dan SMA. Lalu pada tahun 1984 akhir, mungkin pada 1985 sudah di Australia. Sekitar 28 tahun saya sudah tinggal di Sydney. Jadi, lebih lama hidup saya di Sydney dari pada di Indonesia.

Setelah lulus SMA, saya ambil Bachelor of Architecture (Teknik Arsitektur). Setelah itu,Master of Constructor Management. Sambil sekolah, saya sudah mengambil proyek orang. Proyek kecil dan tidak dibayar pun saya mau.

Mengapa Anda bersedia tidak dibayar?

Soalnya, pengalaman itu yang sangat membantu banget. Sambil saya mengambil master degree pun saya sudah bangun rumah. Justru itu (pengalaman) bagusnya.

Sambil mendengarkan pengajar, saya tahu bagaimana practical prosess-nya. Kebanyakanstudent-student lain hanya dengar, tetapi nggak tahu di mana konteksnya. Saya dengar, saya menangkapnya lebih cepat.

Lulus arsitek, saya kerja sama orang dulu selama enam bulan. Salah satu company arsitek yang terkenal di Austrlia, yang membangun Olimpic 2000.

Apa saja pekerjaan Anda di perusahaan itu?

Saya kerjanya menggambar. Setelah enam bulan, saya nggak bisa berdedikasi, saya keluar. Setelah itu, saya mengambil master. Tahun 1994, saya bangun bisnis saya sendiri. Pertama arsitektur. Setelah itu, dua tahun kemudian saya bangun Crown Group. Kemudian saya bergabung dengan beberapa group.

Saya lihat, hidup saya tuh breaktrough. Yang pertama itu adalah breaking for the past barrier, mengatasi keterbatasan masa lampau. Sekolah yang berantakan. I don’t know why. Tapi setelah saya usahkan, ternyata bisa.

Apa tantangan utama Anda saat di Australia?

Setelah sampai ke Australia, tantangan saya di negara bule, ya bahasa. Pengalaman kita ngga banyak. Network kita tidak besar. Network yang ada adalah student semua. Apalagi bahasa Jawa-nya masih medhok. Kalau ditanya, how are you? So far so good (penekanan pada huruf d)… hahaha. Iki kok sudah lama, masih so far so good.

Suka menggambar sejak kapan?

Dari kecil ya. Dulu saya pikir mau menjadi aero engineering atau arsitek ya. Saya sukanya menggambar pesawat sebetulnya. Gambar pesawat tempur, batman, superman. Latihan gambar. Jadi artistiknya keluar di situ.

Mengapa memilih menjadi arsitek?

Saya mikir, mau fokus pada pesawat atau menjadi arsitek? Akhirnya, saya mengatakan ingin membuka perusahaan sendiri. Kalau pesawat kan, saya tidak terpikir juga waktu itu. Seharusnya saya mengambil pesawat aja, dan saat ini kita akan membicarakan sudah menjual berapa pesawat mas, hahaha.

Karena saya pikir, saya kerja sama siapa? Kalau buka perusahaan (pesawat) sendiri bagaimana? Karena saya pikir, mau menjadi enterpreuner mau businessmen. Ya, sudahlah jadi arsitek. Dari situ, saya bisa menggambar rumah-rumah. Ingin menjadi arsitek yang terkenal, leading architects seperti di Amerika.

Setelah jadi arsitek, saya menggambarkan untuk orang lain, pasti orang lain yang menentukan design-nya kan? Mending, saya bikin development sendiri aja. Sambil berjalan, kita lihat finansial modelnya. Saya pikir, arsitek jual jasa. Its really good. Tapi saya pikir, saya ngga mau deh, saya mending jadi developer. Menjadi developer ini kan high risk. Karena kamu investasi, dua tahun modalnya baru balik. Karena kalau arsitek, kan jual jasa. Tapi high risk... high profit, low risk... low profit. No risk...no profit. Hahaha.

Apa proyek pertama Anda?

Saat sekolah, menggambar garasi orang, dapur orang. Tahun ke-4, orang sudah memberi order saya gambar pagar, kamar mandi, dapur. Kami punya rumah juga, orang tua investasi, saya renovasi sendiri. 

Dapat berapa?

Paling 200 dollar (Australia) di kasihnya. Ada yang malah tidak bayar. Keterlaluan itu customer-nya. "Saya nggak bisa bayar kamu, karena saya mau beli Mercy," kata dia.

Keterlaluan itu… hahaha. Sudahlah, ambil saja gambarnya, gratis. Untuk saya enjoy saja, karena saya belajar.

Kalau saya lihat ke belakang, itu aset besar, saya pernah baca outliers tentang 10.000 jam. Dibutuhkan 10.000 jam untuk memiliki best skill. Karena. Kalau cuma 5.000 jam, paling menjadi guru piano. 7.000 jadi profesional. 10.000 menjadi The Beatles. Karena membutuhkan puluhan ribu jam, supaya fisik kita, pikiran kita, spirit kita menjadi satu. Seperti pemain badminton atau tenis. Setelah ribuan jam terbang, dia akan tahu bola lari ke mana. Bagaimana tahunya? Ya tahu saja, karena sudah total.

Saya lihat perjalanan hidup saya, berhubungan dengan gedung. Blue print-nya gedung. Selesai sekolah, saya menikah kan. Saat acara pernikahan, saya bilang sama temen-temen, tolong jangan berikan jam tangan, saya minta uang saja untuk hadiah...hahaha. Karena kami mau travel ke Amerika, ajak istri saya honey moon. Dengan uang terbatas, kamiholiday. Suatu saat, saya sampai ke Viena. Hotelnya mewah, tapi jauh dari kota.

Kalau guyonan sama istri, kalau foto kan biasanya orangnya di depan, gedung di belakang. Kalau saya, gedung di depan, orangnya di belakang. Tolong jauhan sedikit... hahahaha. Dari ratusan roll, 70 persen isinya gedung. Sisanya dia, marah dia. Hahaha.. its a great time. 

Sekarang Anda warga negara Australia?

Saya sudah tinggal di sana (Australia), jadi memutuskan untuk di sana. Tapi, sejak 2 atau 3 tahun terakhir ini, saya merasa Indonesia its beautiful ya. Ya, saya enjoy saja. Saat ini kan, saya dalam fase lebih banyak mentoring, diundang ke mana-mana. Dalam hidup kita, pengalaman hidup akan menentukan masa depan.

Dalam bisnis, lima tahun pertama itu berat sekali. Dibilang susah, saya selalu bersyukur. Dalam hidup saya, saya tidak melihat apa yang belum jadi, tetapi saya melihat apa yang sudah jadi.

Saya tidak mengeluh dengan apa yang saya tidak punya, tetapi bersyukur dengan apa yang saya punya. Karena pengalaman besar dimulai dari kecil. Kepercayaan besar dari kepercayaan kecil. Building block. Tidak perlu bertanding dengan orang lain, be the best u can be.

Ya, bermula dari gambar-gambar. Panggil sub contractor untuk membangun. Setelah itu bangun sendiri. Joint dengan teman. 1994 desain aja. Pada 1996 properti development. Antara rentang itu, saya bangun rumah orang, membuat perusahaan konstruksi sendiri. Setelah dua tahun, saya kok cape sendiri. Kelelahan sekali. Akhirnya saya konsolidasi.

Jadi, apa yang membuat Anda berhasil?

Yang membuat saya berhasil, fokus. Satu hal terbaik lebih baik dari pada banyak yang baik. Kalau fokus kan lebih tajam. Mengalami resesi pada 2004. Itu keringet dingin. Jam empat pagi bangun, mau ngomong apa? Proyek baru tidak bisa jalan, karena tidak ada dana. Proyek lama ga bisa dijual, karena ga ada yang beli.

Saya juga belajar, kalau resesi itu menciptakan ide baru. Dari kondisi krisis, saat itu, orang lain keluar, saya belajar untuk mencari product positioning yang luar biasa.

Saya create konsep resort living itu saat krisis. Bagaimana ya? Nah, kalau bangun cuma 250 unit, dengan nilai proyek Rp1 triliun, maka proyek itu tidak ada kompetisi dengan orang lain. Membuat pasar kita sendiri, yang membuat kompetitor kita tidak ada.

Nah saat itu, kami pikir proyek baru selesai lima tahun, tapi ternyata tiga tahun selesai. Mendapat keuntungan dua kali lipat. Dari situ, kami tidak mau menjadi second base. Kami mau menjadi the only one development.

Saat membangun Sky by Crown ada disain bagus, tetapi good is not great. It has to be great. Good is not enough, it must to be great. Karena secondary tidak akan diingat. Terbaik bukan berarti yang termahal. Caranya kami punya disain, bangun marketing, yang bekerja dengan cepat. Kami berkompetisi di market yang lagi slow. Bangunan 10 tingkat, senilai 28 juta dollar. Itu proyek pertama.

Proyek belum ada nama dan saat itu krisis, bagaimana strategi Anda?

Memang kalau tidak ada nama, kami tidak bisa jual dengan harga mahal. Pada 1997, uang paling susah. Saat itu mendapatkan dukungan dari bank sangat susah. Tidak punya pengalaman. Tidak tahu kenapa bank mau memberi. Mungkin karena mitra saya sudah berpengalaman 10 tahun di atas saya. Saya bonek (modal nekat). Tapi tanpa saya sadari, Crown Group sudah punya cikal bakal future development. Ada market, arsitek, bangunan.capital dan skill bergabung. Itu yang terjadi.

Karakter bangunan Crown seperti apa?

Crown itu terkenalnya uniqe. Arsitektur statement. Yang penting lagi, kami punya lima star resort konsep. Voyeger-nya mewah, ada elemen air. Hidup saya di Kalimantan di atas air. Pohon itu natural dalam hidup saya. Asri. Kami selalu ada fasilitas yang komplit. Karena kami selalu mencari market yang prestigious. Menengah ke atas. Karena di market ini, konsumen tidak melihat karena murahnya saja. Dia melihat karena bagus. Seperti orang beli mobil, bukan karena murah tapi karena itu yang mereka cari. Itulah yang menjadi target kita.

Crown itu tidak pernah mengejakan proyek jauh dari akses transportasi dan shopping center. Kenapa?

Kami menjaga investasi klien tetap bagus, sehingga yang beli lebih banyak, yang mau sewa juga lebih banyak. Lokasi penting, design yang urban look.

Tidak memberikan suatu feeling arrive, seperti hotel di Bali. Kebanyakan developer terlalu pelit. Pohon di gambar tinggi, tetapi dibangunnya yak segini (tak sesuai gambar). 10 tahun lagi, baru sesuai gambar. Itu salah. Kalau kami, pasang pohon kelapa yang tingginya sudah lima meter. Itu yang kami create.

Lalu warna, kami seperti resort. Luis Vuitton begitu. Penting sekali. Dark, coklat, white. Its crown color. Kehangatan. Walaupun minimalis, saya mau make sure, kalau bangunan ituhommy. Tidak semua orang suka gedung itu putih. Tetapi, sebagai arsitek saya suka. Namun, tidak memunculkan hommy feeling.

Menurut penilaian Anda, karakter bangunan di Indonesia, khususnya apartemen, seperti apa?

Saya pikir ada yang bagus juga, seperti Pak Ciputra. Dia perhatikan lingkungan. Kenyamanan. Gedung untuk long term. Dalam jangka panjang tetap bagus. Banyak sekali developer tidak berpengalaman, gedungnya bagus tahun pertama, tahun kedua sudah hancur. Karena tidak memikirkan detail. Tidak memikirkan dampak hujan. Baru dua tahun sudah tampak 10 tahun. Terlebih lagi dampak polusi.

Lebih baik itu, less is better then less is more. Simple lebih bagus. Dalam arti itu, nothing is better then too many. The art of genius is creating clompex thing to be come simple. Contohnya begini. Yang kita ingat, gedung yang simple atau kompleks? Gedung yang iconic seperti Haba Bridge, Monas, Opera House. Ingat nggak gedung yang lain? Tidak kan, karena terlalu complex. Gedung BNI misalnya, karena iconic. Mata kita, pikiran kita.

Interior juga sama. Kalau warnanya kaya pelangi, bingung kita. Kalau kita lihat warna satu dua, enak kita. Coklat, coklat, coklat, satu tema. Mata yang melihat enak. Kalau kuning ada, hijau ada, coklat ada. Mata kita sulit.
Sumber:
Merdeka.com' Reporter : Ardyan Mohamad | Rabu, 21 Agustus 2013 04:05
Viva.co.id
      



Kisah Sukses Mahmudi Fukumoto, Bos Kontraktor di Jepang Asli Tulungagung

Feby Dwi Sutianto - detikfinance

Jakarta -Pada acara Kongres Diaspora ke-2 disemarakkan orang-orang sukses asli Indonesia yang memiliki usaha di luar negeri. Salah satunya Mahmudi Fukumoto, pria asli Tulungagung, Jawa Timur yang sukses menjadi kontraktor di Jepang.


Mahmudi yang masih berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) ini, sukses berkarier sebagai seorang pengusaha dan CEO perusahaan kontruksi, Keihan Co. Ltd di negeri Sakura tersebut. 



Ia memulai karirnya sebagai seorang pekerja hotel di Jepang, Mahmudi bekerja sebagai cleaning service. Kemudian ia memutuskan keluar dan masuk di sebuah perusahaan kontruksi karena ingin mengembangkan kemampuan Bahasa Jepangnya.



"Saya ke Jepang. Kerja di Hotel selama 1 tahun. Bagian nyuci toilet. Cleaning service. Terus saya masuk kuli bangunan. Saya digaji berapapun mau. Yang penting diajarin Bahasa Jepang. Selama 1,5 tahun saya bekerja dan belajar kemudian saya keluar," ucap Mahmudi yang hijrah ke Jepang sejak tahun 2001 lalu saat acara Diaspora di JCC Senayan Jakarta, Selasa (20/8/2013).



Sebelum ke Jepang, pria yang hanya lulusan SMA ini bekerja sebagai karyawan hotel di Bali. Di Bali, ia belajar Bahasa Jepang dengan seorang guru les Bahasa Jepang.



"Karena banyak orang Jepang, Amerika. Saya kursus Bahasa Jepang. Gurunya orang Jepang. Setelah belajar beberapa bulan. Guru saya bilang, kamu bodoh sekali. Akhirnya saya disuruh praktek dengan orang Jepang. Teman guru saya," jelasnya.



Akhirnya ia menikahi teman guru lesnya yang merupakan wanita kewarganegaraan Jepang. Setelah menikah, Mahmudi hijrah ke Jepang dan tetap memilih sebagai WNI.

Ia pun bercerita mengenai asal usul nama Jepang yang melekat padanya. Mahmudi menjelaskan karena dirinya memiliki usaha dan menjadi pemimpin perusahaan, segala sesuatu akan berjalan lancar ketika dirinya menggunakan nama Jepang. Akhirnya ia memilih nama keluarga sang istri.


"Fukumoto nama dari mertua saya. Saya minta izin pakai nama itu. Karena itu gitu mertua laki-laki saya simpati," tambahnya.



Saat ini perusahaan yang dipimpinnya berkembang ke bidang biro perjalan hingga pembuatan mainan anak-anak. Untuk kontruksi, semua karyawannya merupakan warga negara Jepang. Sedang untuk 2 bisnis barunya, ia berusaha menggandeng WNI yang sedang bekerja di Jepang namun memiliki niat dan keinginan menjadi pengusaha.



"Bikin mainan dan travel itu kita berdayakan orang Indonesia," sebutnya.



Menurutnya memulai bisnis di Jepang tidak terlalu sulit namun mempertahankan dan memajukan bisnis adalah pekerjaan tersulit. Diakuinya perlu ketekunan dalam berbisnis.



"Saya kuncinya ulet. Suka duka waktu krisis global terasa sekali. Banyak perusahaan gulung tikar, terus ada yang bilang kapan perusahaan saya gulung tikar. Kapan Keihin gulung tikar. Kalau saya gulung tikar. Saya mau kerja apa lagi. Soalnya keahlian saya cuma itu. Waktu ada tsunami. Bagi Jepang bisa jadi musibah tapi berkah juga karena ekonomi ada. Ada kerjaan kontruksi. Pemerintah supply dana," katanya.

Apa yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup dan usaha Mahmudi Fukumoto:
  1. Membangun Mindset dengan belajar terus menerus. Kalau Mahmudi tidak mempunyai mindset yang baik, tentu dia tidak akan bermimpi untuk menjadi pengusaha pada saat ini. Sedemikian mahalnya ilmu tersebut sehingga dibayar berapun mau asalakan diajarkan sesuatu yang dapat membuat dirinya berkembang.
  2. Fokus: sudah berapa banyak pekerjaan yang dilaluinya, dia tidak pernah terperangkap pada pekerjaan tersebut. Pekerjaan yang dia kerjakan hanyalah salah satu tahapan untuk melangkah ke tahapan berikutnya. Mimpinya tidak pernah padam. Untuk men dapatkan kesuksesan di negeri orang.
  3. Bekerja keras dan sungguh-sungguh. Bagaimana dia dapat bertahan diusahanya kalau dia tidak bekerja keras dan sungguh-sungguh, mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Jepang tentunya harus diimbangi dengan pelayanan yang ekstra juga.
  4. Siapa saja bisa meraih kesuksesan, tanpa memandang latar belakang sosial. Dan siapa saja dapat memulai dan menjalankan usaha, tanpa harus tergantung dengan orang lain. Buatlah mimpi anda sendiri, jangan pakai mimpi orang lain, karena mimpi orang lain itu belum cocok dengan kemampuan dan kelayakan anda.
  5. Mempelajari ilmu tentang membuat bisnis dan membangun bisnis perlu dilakukan apabila anda ingin menjadi seorang entrepreneur. Karena dengan bekal ilmu tersebut kita dapat menemukan permasalahan yang terjadi diusaha kita, dan menemukan solusi dan jalan keluar yang baik untuk kemajuan usaha kita.

Kamis, 27 Februari 2014

Kapan Saatnya Berhenti Atau Terus Berjuang?

Hore!
Hari Baru, Teman-teman.

Tanggal 18 February 2014 kemarin saya menulis artikel tentang keberhasilan yang hanya bisa didapatkan oleh mereka yang terus berjuang. Artikel itu berjudul “Gagal Terjadi Karena Kita Berhenti” (P#123). Inti artikel itu adalah; jika kita terus berjuang, maka kita akan sampai pada keberhasilan. Pada tanggal 3 July 2013, saya menulis artikel lainnya tentang ”Jika Gagal – Berapa Kali Mesti Mencoba Lagi?” (P#78). Dalam artikel itu, saya menyarankan bahwa kita hanya boleh mencoba sekali lagi saja. Jika masih gagal lagi, maka tidak perlu dicoba lagi.

Pembaca setia saya bertanya; “Mana yang benar, apakah kita harus terus berjuang sampai berhasil? Ataukah kita hanya perlu mencobanya sekali lagi saja?” Jika Anda mempunyai pertanyaan yang sama, mungkin artikel ini cocok juga buat Anda. Sehingga saya bagikan disini pula jawabannya. Siapa tahu ada manfaatnya kan?

Jawaban atas pertanyaan itu sangat kontekstual. Jika sesuatu yang kita usahakan itu berkaitan dengan suatu proses yang saling berkesinambungan, maka kita harus terus berjuang sampai berhasil. Mengapa? Karena dalam konteks perjuangan itu, setiap langkah kita memberikan ‘hasil yang tidak kelihatan’. Seperti para pemecah batu yang memukul batu berkali-kali. Meskipun batu itu belum pecah juga, namun setiap pukulannya menghasilkan ‘retakan dalam batu’. Sehingga berhenti memukul batu itu adalah keputusan keliru. Sebab, setiap pukulan kita tidak gagal. Melainkan, batu itu butuh berpuluh bahkan beratus kali pukulan hingga bisa dipecahkan.

Namun jika sesuatu yang kita perjuangkan itu ‘lazimnya’ memberikan dampak dalam ‘single strike’ alias sekali mencoba mestinya kelihatan hasilnya, maka mencoba sekali sudah cukup. Jika gagal, hanya sekali lagi saja kita boleh mencobanya. Setelah itu, don’t waste your time and energy untuk sesuatu yang secara realistis tidak bisa kita dapatkan. Seperti saya uraikan dalam artikel itu, ada 2 aspek menjadi pertimbangan. Yaitu aspek internal kita, dan aspek eksternalnya.

Contoh kongkritnya begini. Banyak orang yang sebenarnya lebih cocok untuk menjadi professional handal. Dalam karirnya mereka berhasil menjadi eksekutif kelas atas. Punya kedudukan tinggi, dan penghasilan yang memuaskan. Pertanyaan; apakah kesuksesannya dalam karir menjadi jaminan akan sukses juga sebagai pengusaha? Tidak selalu demikian. Faktanya, banyak professional yang karena terpengaruh ini itu; akhirnya tergoda untuk mencoba peruntungan menjadi ‘pengusaha’. Mereka berhenti bekerja, lalu beralih kuadran menjadi entrepreneur. Sudah dikerahkan semua kemampuannya 100%, tapi gagal juga. Bagaimana dong?

Kita, tentu tidak boleh membunuh keingintahuan atau rasa penasaran yang tumbuh didalam diri kita. Boleh mengikuti dorongan itu. Coba saja, jika memang Anda mau dan mampu menanggung resikonya. Namun, kaidah 1 x 100% x 1 berlaku disini. Lakukan 1 kali saja dengan mengerakan 100% sumber daya yang ada. Kalau gagal, HANYA boleh melakukannya 1 kali lagi saja. Dan jika gagal lagi, maka dalam konteks ini; kita mesti paham bahwa memaksakan diri dalam bidang yang bukan keahlian kita lebih dekat pada kegagalan daripada keberhasilan.

Kalau contoh faktor eksternalnya bagaimana? Begini contohnya. Anda berjuang untuk memasukkan penawaran kepada sebuah lembaga yang mempunyai kultur yang bertolak belakang dengan nurani dan etika bisnis yang Anda anut. Disana, seseorang hanya bisa menjadi pemasok jika melakukan ini dan itu yang bertolak belakang dengan etika. Misalnya, jiwa idealis Anda mendorong untuk ‘mengubah’ kondisi itu. Bagus? Bagus saja sih. Anda boleh mencobanya. Tapi hanya sekali. Mengapa? Karena Anda mesti sadar bahwa boleh jadi; Anda bukanlah orang yang tepat untuk bisa mengubah kultur disana. 

Jangan terlampau banyak membuang waktu dan energy untuk memperjuangkan sesuatu yang secara internal bukanlah bidang keunggulan kita. Mending focus pada proses mendayagunakan bidang-bidang keunggulan kita. Kalau gagal pun, bangkit lagi aja. Gagal lagi, bangkit lagi saja. Karena, kegagalan yang kita alami dibidang yang secara internal merupakan area kekuatan kita itu justru akan membuat kita semakin kuat, semakin ahli, semakin terampil dan semakin dekat kepada keberhasilan.

Jangan pula terlampau banyak membuang waktu dan energy untuk memperjuangkan sesuatu yang secara eksternal memang tidak bisa kita ubah. Mending focus saja kepada orang-orang atau lingkungan yang memang sejalan dengan gagasan atau spirit perjuangan Anda. Minimal dengan mereka yang ‘mau berubah’. Pelanggan Anda mungkin menolak, misalnya. Tapi, masih bisa diubah. Itu yang perlu diperjuangkan sampai berhasil. Sedangkan mereka yang sudah ‘karatan’ dengan nilai-nilai yang tidak bisa Anda ubah itu? Sayang-sayang sumber daya Anda saja jika terus mati-matian melakukan pengejaran seperti itu.

Demikian contoh kongkritnya. Mudah-mudahan, sekarang bisa lebih jelas lagi dalam konteks apa kita mesti berjuang terus sampai berhasil, dan dalam konteks apa cukup mencoba hanya sekali. Jika masih kurang jelas, saya sarankan untuk membaca dua artikel saya ini. Pertama, “Gagal Terjadi Karena Kita Berhenti”Dan kedua, ”Jika Gagal – Berapa Kali Mesti Mencoba Lagi?”. Keduanya ada diwww.dadangkadarusman.com .

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 19 February 2014
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
Penulis Novel “DING and HER GOKIL PAPA!”
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D

Catatan Kaki:
Tahu kapan saatnya untuk berhenti berjuang membuat kita menghemat waktu dan sumberdaya lainnya. Tahu kapan saatnya untuk terus berusaha membuat kita semakin dekat dengan keberhasilan. Tahu kapan saatnya untuk berhenti atau terus berjuang membuat kita semakin memahami dan menguasai hidup kita sendiri.

Kesibukan sering tidak memungkinkan saya untuk posting artikel di berbagai milist. Jadi saya prioritaskan di milist pribadi yang bisa diupdate melalui gadget. Jika Anda ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin sebaiknya bergabung disini: http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
www.dadangkadarusman.com
Dare to invite Dadang to speak for your company? 
Call him @ 0812 19899 737 or Ms. Vivi @ 0812 1040 3327
Profil Entrepreneur
Dr. (HC) Martha Tilaar

Martha Tilaar (lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937) adalah seorang pengusaha Indonesia yang bergerak di bidang kosmetika dan jamu dengan nama dagang Sariayu. Ia menikah dengan H.A.R Tilaar dan memiliki empat anak, Bryan Emil Tilaar, Pinkan Tilaar, Wulan Tilaar, Kilala Tilaar. Bekerja sama dengan Kalbe Farma, ia membuat perusahaan kosmetika dan jamu Martina Berto. Selain itu ia juga memiliki usaha kerajinan di Sentolo, Yogyakarta bernama Prama Pratiwi Martha Gallery.Dia juga memiliki Kampung Jamu Organik di Cikarang, Bekasi.

Masa kecil Martha Tilaar tidak begitu indah, bahkan sejak dari kandungan. Ketika mengandung, ibunya kerap mengalami masalah kesehatan seperti tidak mau makan karena mual terus, tidak mau bergerak, dan tidak mau melihat sinar matahari. Ketika masih bayi juga kerap diserang penyakit hingga 13 dokter harus merawatnya. Ketika beranjak remaja, ibunya mengajarkan untuk berjualan kecil-kecilan, menghitung uang, dan memisahkan telur segar dari telur yang busuk. Tak seperti yang ditakutkan ibunya, dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar.
Memasuki masa remaja, Martha Tilaar tumbuh menjadi gadis yang tomboy. Meski rumah kakeknya dikelilingi pagar tinggi, tetap saja bisa “kabur” untuk bermain layang-layang atau berenang di sungai bersama teman-temannya yang kebanyakan laki-laki. Martha Tilaar juga nakal suka mengambil uang ibunya, suatu kali ibunya memergokinya. Ibunya berkata jika ingin punya uang banyak harus bekerja keras. Uang jajannya sudah terkumpul dan membeli kacang di toko, lalu ia bungkus dan dijual ke teman-temannya. Bakat wirausahanya mulai muncul ketika itu.

Martha Tilaar gemar berenang hingga kulitnya tidak terawat dan rambut panjangnya memerah. Di antara saudaranya, Martha Tilaar bisa dikatakan yang paling jelek karena tidak mau merawat diri. Ibunya mengingatkannya kelak kalau sudah lulus dan jadi guru harus bisa menjaga penampilan di depan kelas. Karena bandel, ibunya memaksanya untuk mengikuti les tata kecantikan dengen Titi Purwosoenoe. Anehnya, sejak mengikuti les kecantikan itu Martha Tilaar tiba-tiba jatuh cinta pada seni berdandan itu.

Ketika harus mendampingi sang suami Prof Dr. H.A.R. Tilaar di Amerika Serikat, Martha Tilaar juga menuntut ilmu di Academy of Beauty Culture, Indiana, Amerika Serikat, Martha Tilaar membuka salon kecantikan untuk orang-orang Indonesia di sana.

Peraih gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam bidang "Fashion and Artistry" dari World University Tuscon, Arizona, AS tahun 1984, Setelah lulus dari , dan pulang ke Indonesia, langsung membuka “Martha Salon” di garasi rumah orangtuanya di Jalan Kusuma Atmaja No. 47, Menteng, Jakarta Pusat pada tanggal 3 Januari 1970. Dua tahun kemudian, Martha Tilaar membuka salon keduanya di Kebayoran Baru yang diberi nama Martha Griya Salon. Di Martha Griya Salon, mulai memperkenalkan perawatan kecantikan tradisional berbahan tanaman herbal untuk pertama kalinya.

Dua salon miliknya semakin berkembang pesat. Lima tahun kemudian, Martha Tilaar bekerja sama dengan pemilik Kalbe Group, Theresia Harsini Setiady, untuk mendirikan perusahaan kosmetika dan jamu, PT. Martina Berto. Sariayu Martha Tilaar adalah produk pertama mereka. Pada tahun 1981, PT. Martina Berto mendirikan pabrik modern pertama di Pulo Ayan, Pulogadung Industrial Estate. Pada tahun 1986, pabrik kedua didirikan pada Pulo Kambing, Pulogadung Industrial Estate. Tahun 1983, Martha Tilaar mendirikan PT. Sari Ayu Indonesia sebagai distributor produk kosmetika Sariayu Martha Tilaar. 

Pada tahun 1993, perusahaan mengakuisisi pabrik kosmetik PT Cedefindo sebagai manufaktur kontrak untuk internal dan eksternal. Pada tahun 1995, PT Martina Berto III didirikan di Gunung Putri, Bogor. Pada tahun 1996 PT Martina Berto menjadi pabrik kosmetik pertama di Indonesia yang memperoleh 9001 certification.In ISO 2000, perusahaan ini menjadi satu-satunya pendiri Global Compact PBB dari Asia, juga mendapatkan sertifikat ISO 14001 dan sertifikat GMP: CPKB (Cara Produksi kosmetika Yang Baik) dan CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional Yang Baik). Pada tahun 2008, ia dianugerahi "Most Admired Enterprise di ASEAN" kategori 'Inovasi' dari Asean Bussiness Forum.

Kinerja dan perkembangan PT Martina Berto memiliki pertumbuhan begitu pesat, sejumlah penghargaan baik nasional maupun internasional juga telah di tangan. Baru-baru ini, DR. Martha Tilaar diberikan penghargaan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon pada UN Global Compact Leaders Summit di New York karena menjalankan perusahaan yang memiliki program meliputi 10 prinsip Global Compact etika, seperti hak asasi manusia, tenaga kerja, konservasi pengendapan, dan anti- korupsi sejalan dengan delapan tujuan pembangunan millennium.
Sampai tahun 1995, PT. Martino Berto berhasil mengakuisisi sejumlah perusahaan seperti PT Kurnia Harapan Raya, PT Cempaka Belkosindo Indah, PT Estrella Lab, dan PT Kreasi Boga. Bahkan pada tahun 1999, Martha Tilaar membeli seluruh saham PT Kalbe Farma yang ada pada PT Martina Berto. Dari sebuah salon kecantikan sederhana, berkembang menjadi Martha Tilaar Group (MTG). Grup usaha ini memayungi 11 anak perusahaan dan mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan.

Di tengah kesuksesan bisnisnya, Martha Tilaar sempat terpukul karena divonis mandul oleh dokter. Sudah belasan tahun menikah, Martha Tilaar belum juga diberi keturunan. Tapi Martha Tilaar tak menyerah, untungnya neneknya yang ahli jamu bisa mengobati kemandulannya dengan jejamuan. Hasilnya luar biasa, Martha Tilaar bisa hamil dalam usianya yang sudah menginjak kepala empat. Usianya ketika itu sudah 42 tahun, namun Martha Tilaar bisa melahirkan anak pertamanya. Bukan hanya satu, akhirnya Martha Tilaar bisa memiliki empat anak. Kebahagian keluarganya dilengkapi dengan kesuksesan bisnis kosmetika dan jamu yang sudah mati-matian dijalaninya.

Titik-picu 1987

Cerita lebih lanjut mengenai keberhasilan Martha Tilaar menjadi pengusaha papan atas, yang tetap komit mencintai produk dalam negeri demi membangun kemandirian bangsa khususnya di bidang jamu dan kosmetika, memulai titik-picu yang sesungguhnya pada tahun 1987. Ketika itu secara cerdik dan unik ia mempopulerkan "Senja di Sriwedari" sebagai trend tata rias baru, sebuah ide yang diilhami oleh kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Sejak itulah Martha Tilaar selalu mempersuntingkan nama tempat dan unsur budaya suatu daerah, yang lalu dipadukan dengan trend busana daerah, ke setiap produk Sariayu Martha Tilaar. Sariayu berhasil tampil sebagai trendsetter tata rias wajah wanita Indonesia. Martha Tilaar memang sangat menghargai produk dalam negeri, seperti busana misalnya. Buktinya, saban hari ia selalu lekat dengan busana buatan dalam negeri. Ia kerap menggunakan kebaya, desainer batik, atau berbagai busana daerah Indonesia.

Pemerhati tata rias sangatlah paham benar akan apa yang disebut dengan konsep Gaya Warna Disainer (1998) sebuah tata rias yang mengambil unsur budaya Jawa Barat dan Kalimantan, Sumatera Bergaya (1989) dari Sumatera, Puri Prameswari (1990) mengambil dari etnik Cirebon dan Bali, Senandung Nyiur (1991) dari Pantai Indonesia, Riwayat Asmat (1992) dari Irian Jaya/Papua, Rama-Rama Toraja (1993), serta konsep-konsep dari berbagai daerah lain seperti Banda/Ambon, Jakarta, Aceh. Dan, puncaknya adalah trend warna Pusako Minang dari Minangkabu.

Berdasarkan strategi pendekatan etnik Martha Tilaar berhasil menjalin hubungan emosional dengan konsumen, bahkan berhasil menyelamatkan biduk bisnisnya dari hantaman krisis ekonomi. Sebab dengan konsep baru itu Martha Tilaar berhasil meraih penjualan besar bahkan bisnisnya pernah bertumbuh hingga 400 persen.

Perjalanan bisnis Martha Tilaar tidak selamanya mulus. Ia pernah mengalami jatuh-bangun atau pasang-surut usaha. Pernah, suatu ketika, bendera usaha Martha Tilaar sudah sedang berkibar orang masih saja memandangnya sebelah mata. Maklum, produk jamu kosmetika Sariayu Martha Tilaar sangat identik sekali sebagai produk lokal. Orang tahunya demikian saja tanpa mau mengenal bahwa produk Martha Tilaar sesungguhnya sudah mendunia, berkualitas, dan bergengsi. Bahkan, Sariayu Martha Tilaar sudah menjadi sebuah ikon produk lokal yang mendunia. Sebagai misal, Sariayu Martha Tilaar memiliki produk kosmetika berkelas Biokos, Belia, Caring Colours, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden dan lain-lain yang sudah terkenal sampai ke mancanegara.

Produk-produk itu dipasarkan di kantor-kantor pemasaran Martha Tilaar di luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, bahkan ke Los Angeles, AS. Ditambah di Paris, Perancis ia memiliki sebuah laboratorium penelitian parfum. Martha Tilaar juga memiliki puluhan spa di luar negeri yang tetap menempelkan merek dagang Martha Tilaar. Seperti di Malaysia, bertempat di Crown Princess Kuala Lumpur pembukaan spa Martha Tilaar dihadiri oleh Permaisuri Agung Siti Aishah. Spa ini didirikan khusus untuk memenuhi banyaknya permintaan terutama pelanggan dari salon di City Square, Kuala Lumpur.

Kembali ke kisah bagaimana dahulu orang memandang Sariayu Martha Tilaar masih sebelah mata. Walau bergemilang sukses dan bersohor nama di negeri asing, Martha Tilaar justru pernah merasakan sebuah kepahitan di tanah air. Itu, terjadi tatkala ia hendak menyewa dan membuka gerai jamu dan kosmetika di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta, persis di pusat perkantoran dan rumah tinggal kalangan berduit. Ia ditolak menyewa tempat. "Dulu kalau saya mau sewa tempat diusir. Mereka hanya mau menjual produk branded. Dibilang standar plazanya akan turun karena dianggap tidak ada image," kata Martha Tilaar, yang dalam hidup tak pernah mau menyerah apalagi berputus asa.

Respon atas penolakan itu Martha Tilaar menyegerakan mendirikan Puri Ayu Martha Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetika Sariayu sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen. Gerai dan pusat pelayanan konsumen ini berada dalam bendera usaha PT Martha Beauty Galery. Gerai Puri Ayu Martha Tilaar pertamakali berdiri di Graha Irama, di kawasan elit Kuningan, Jakarta Selatan, lalu berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.

Investasi Riset

Martha Tilaar mempunyai komitmen tinggi membangun industri kosmetika. Ia investasi besar di bidang riset dan pengembangan (R&D). Ia mau mengirim staf ahli farmasinya belajar ke luar negeri, atau mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Ia memiliki dua orang staf ahli farmasi bergelar doktor, sejumlah magister dan sarjana strata satu lainnya. Berdasar komitmen kuat itu Martha ingin menunjukkan kepada bangsa-bangsa di dunia bahwa Indonesia bisa unjuk diri dan tidaklah ketinggalan di bidang kosmetika dan tata rias.

R&D memberi hasil lain. Martha Tilaar perlahan-lahan berhasil mengurangi ketergantungan kandungan bahan baku impor, berganti dengan bahan baku lokal di setiap produknya. Hasil lain lagi, ini yang lebih mencengangkan, pada bulan Juli 2002 Sekjen PBB Kofi Annan mengundang Martha Tilaar hadir dalam forum Global Compact, di New York, AS.

Di forum itu para pengusaha yang diundang diminta mempromosikan praktik berbisnis yang baik dalam bidang hak asasi manusia, tenaga kerja, dan lingkungan, yang telah dipraktikkan. Tujuannya agar setiap pengusaha menempatkan masalah sumberdaya manusia, sumberdaya alam, lingkungan, dan hak-hak asasi manusia sebagai prioritas penanganan dunia usaha.

Ketika berbicara pada pertemuan Komite Pengarah Nasional Global Environment Facility (GEF)/Small Grant Program, di Jakarta, 5 Oktober 2004, Martha Tilaar kembali mengangkat ulang komitmennya yang tinggi terhadap produk lokal dalam nada berbeda. Martha sangat menyayangkan betapa produk-produk lokal yang selama ini diklaim sebagai warisan budaya, seperti rendang masakan Padang, atau songket kain dari Pelembang, itu ternyata sudah didaftar-patenkan oleh tetangga negeri serumpun Malaysia. Ia pun khawatir akan jamu, yang dari zaman kapanpun kita merasa itu milik kita, keburu dipatenkan pihak asing.

Perjalanan bisnis Martha Tilaar agaknya tak juga lepas dari keajaiban pekerjaan tangan Tuhan. Walau pernah mengalami nyaris bangkrut, atau pecah kongsi, biduk usahanya tetap terpelihara baik. 

Martha melahirkan konsep community trade bersama rekannya Emmy Pratiwi, karena itu namanya disebut Prama Pratiwi Martha Gallery yang menyediakan segala fasilitas produksi industri kerajinan. Hasilnya sangat memuaskan. Ketekunan para perajin dan tekad mau berkembang membuat mereka cepat berhasil. Produk dari para perajin sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor ke Perancis, Australia, dan Amerika.

Martha juga mendirikan Yayasan Martha Tilaar. Ia mendidik banyak wanita dan ibu-ibu tentang kecantikan. Tujuannya agar mereka mengerti kecantikan sehingga bisa merawat diri. Namun yang terutama agar mereka mempunyai keterampilan tentang kecantikan, sesuatu yang pernah banyak menolong wanita di saat krisis multidimensi melanda bangsa termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan wanita maupun laki-laki di banyak perusahan lain. Bagi Martha Tilaar perempuan adalah pemersatu yang sangat besar perannya bagi keutuhan bangsa. Karena itu ia tak ingin perempuan terbelakang dalam soal pendidikan.

Bagi Martha di era modern seperti sekarang makna emansipasi bukan semata dimaknai untuk memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Melainkan jauh lebih besar dari itu berjuang demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. "Sebenarnya yang perlu dituntut kaum perempuan, bukan hanya persamaan hak, tapi juga hak memilih dan menentukan nasib sendiri,"

Sumber:
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/80-sariayu-bermula-dari-garasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Martha_Tilaar
http://www.tokohtokoh.com/martha-tilaar.html
http://www.marthatilaargroup.com/id/perusahaan/sejarah.html

Rabu, 26 Februari 2014

Profil Entrepreneur
Sudhamek A.W.S





Beliau bernama lengkap Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto, lahir pada tanggal 20 Maret 1956 di Rembang, Jawa Tengah. Pak Sudhamek memulai pendidikannya dengan sangat lambat, nyaris tidak naik kelas ketika SD. Beliau termasuk anak yang sering di-bully sehingga tidak maksimal dalam belajar. Namun ketika menyadari bahwa nasib ada di tangannya sendiri, beliau bangkit dan bahkan menyelesaikan kuliah ganda di Universitas Satya Wacana. Beliau lulus dengan nilai yang sangat baik di jurusan ekonomi pada tahun 1981 dan jurusan hukum pada tahun 1982.

Petualangan Pak Sudhamek dimulai ketika dia lulus dari Satya Wacana. Meskipun lahir di keluarga pengusaha pengolahan kacang kulit yang setidaknya di pasar lokal sudah cukup terkenal, beliau malah memilih jalan terjal dengan bekerja di luar dan memulai dari sangat awal. Beliau bergabung dengan Gudang Garam, sebuah perusahaan rokok besar di Indonesia untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang nantinya akan sangat berguna di perusahaannya kelak. Bekerja keras ditambah cepatnya Pak Sudhamek menimba ilmu, dalam waktu 8 tahun beliau sudah dipercaya untuk menjadi Presiden Direktur di PT. Trias Santosa Tbk, anak perusahaan Gudang Garam.

Merasa petualangannya di Gudang Garam sudah cukup, beliau memutuskan untuk pindah ke Djuhar Group dan bertindak sebagai Executive Director. Di waktu bersamaan, ternyata Sudhamek juga mendirikan sebuah sekolah bernama Central Sevilla National Plus School. Beliau juga sempat menjabat sebagai wakil presiden di PT. Posnesia Stainless Steel. Barulah pada tahun 1994 Pak Sudhamek memutuskan kembali membantu keluarganya di Tudung Group (cikal bakal GarudaFood). Almarhum Bapak Darmo Putro yang merupakan ayah Pak Sudhamek selalu mengatakan bahwa “biarpun kecil, jadilah tuanmu sendiri dalam hidup ini.”

Beliau menekankan pentingnya kultur dalam membangun GarudaFood. Kalau perusahaan itu mempunyai kultur yang baik, maka sebuah perusahaan akan berperforma baik pula. ak Sudhamek juga selalu menekankan pentingnya membangun aspek spiritual dalam perusahaan. Moralitas karyawan yang baik akan memberikan hasil yang baik pula untuk perusahaan. Beliau berpendapat bahwa manusia merupakan pemegang peran terbesar dalam segala proses bisnis. Seorang pemimpin hebat harus mampu menyentuh aspek manusia semua orang yang dipimpinnya dengan cerdas dan arif. Dengan kemampuan spiritual yang ditambahkan dengan kompetensi, maka perusahaan akan menjadi lebih dinamis dalam bertumbuh.

Selain faktor SDM, beliau juga berhasil memodernkan GarudaFood menggunakan semua pengalaman kerja sebelumnya. Contoh inovasi yang beliau tekankan adalah keberhasilan GarudaFood mendirikan perusahaan distribusi. Kini GarudaFood bukan hanya perusahaan makanan, namun juga distribusi produk makanan. Dari dulunya hanya fokus dalam produk kacang, kini telah menmghasilkan 200 produk makanan dan minuman. Brand utama yang dibangun adalah Kacang Garuda dan Gery. Pada puncaknya, GarudaFood juga menjalin kerjasama dengan brand besar dari Jepang, Suntory.

Kini, dengan besarnya GarudaFood, Pak Sudhamek merasa sudah saatnya bagi beliau untuk pensiun. Beliau merasa bahwa sinar matahari pemimpin baru GarudaFood bisa tertutup apabila beliau masih aktif. Dalam sebuah proses suksesi yang berhasil, beliau menyerahkan posisi sebagai CEO GarudaFood pada Harianto Atmadja. Kini Pak Sudhamek yang telah berusia 56 tahun memilih untuk menjadi mentor GarudaFood, terutama dalam menjaga budaya spiritual dan inovasi. Berdasarkan data Majalah Forbes, Pak Sudhamek berada di posisi ke 38 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai 760 juta dollar atau 7,6 Trilliun Rupiah.

Pendidikan

Berbicara mengenai pendidikan, Sudhamek merupakan salah satu tokoh yang selalu mengutamakan pendidikan. Ia tidak hanya menyelesaikan pendidikan hingga sarjana di bidang ekonomi, pada tahun 1981; namun juga telah menyelesaikan kuliahnya hingga sarjana dibidang hukum pada tahun 1982 di Universitas Satya Wacana, Salatiga. Itulah mengapa Sudhamek begitu cakap dalam banyak hal; karena, memang dari awal ia telah berpedoman, bahwa ia harus menjadi seorang yang professional dengan banyak menimba ilmu dan pengalaman sebelum masuk dalam dunia bisnis.

Bisnis dan perusahaan

Ketika Sudhamek memasuki bisnis dan perusahaan keluarganya, usaha keluarganya menjadi berubah. Dengan berbekal pengalamannya yang mampu menggunakan taktik distribusi yang ia pelajari dari perusahaan rokok PT. Gudang Garam, dalam waktu yang singkat beliau mampu merajai pemasaran bisnis dan perusahaan keluarganya. Ini berkat penjualannya yang langsung melejit ketika perusahaan tersebut dipegangnya selama hampir 15 tahun.

Bahkan, kacang yang sebelumnya dianggap hanya sebagai kudapan sepele, tetapi dengan kegigihan dan ketangguhan Sudhamek dalam mengelola bisnisnya, kini kacang jualannya tersebut mampu menyebar masuk pasaran di berbagai modern market. Tidak hanya itu, ia mampu melakukan inovasi dan memproduksi kudapan lainnya, seperti biskuit Gery di tahun 1997, kemudian Okky Jelly Drink di tahun 1998, hingga ke makanan dan minuman sehat lainnya; baik itu dalam bentuk snack, makanan instan, ataupun minuman instan. Maka tak heran jika dalam masa sepuluh tahun terakhir, Garuda food mampu menjadi brand bagi 80-an jenis produk yang berbeda.

CEO Garudafood, Sudhamek AWS melihat happiness dari dua angle. Dari sisi duniawi (ekonomi) dan non duniawi (spiritual). Dari sisi ekonomi, happiness merupakan hasil bagi dari possession (yang dimiliki) dengang desire (keinginan). Penafsiran dari hukum ekonomi adalah untuk meningkatkan kebahagiaan maka prosentase possession harus ditambah. “Nah, ini yang saya tidak setuju. Dari pandangan seorang Budhis, secara spiritual, untuk mencapai kebahagiaan yang harus dikendalikan adalah desire-nya,” ujar Sudhamek yang juga Ketua Umum Majelis Budhayana Indonesia ini. Setinggi apa pun possession ditingkatkan kalau desire-nya liar, maka hasil baginya tidak akan ketemu.

Contohnya, masyarakat yang hidup di pedesaan. Meski secara financial kehidupan mereka sangat minimal, tetapi mereka bersahaja dan tidak memiliki keinginan (desire) yang neko-neko maka mereka jauh lebih bahagia dari orang-orang sukses di kota-kota. “Saya memaknai happiness secara berbeda. Memang, possession harus berkembang, tetapidesire harus di-manage,” katanya.

Konsep lain tentang kebahagiaan yang diyakini Sudhamek adalah kemampuan mengendalikan keadaan. Yakni, keadaan sebab-akibat. Dalam kondisi ini, segala sesuatu pasti ada penyebab yang mengakibatkan sebuah peristiwa. Misalnya, belum lama ini Sudhamek bertemu anaknya yang mengeluh tentang beratnya beban pendidikan yang ditempuhnya. “Saya bilang, ini merupakan konsekuensi dari pilihan kamu sebelumnya,” kata dia. Karenanya, konsekuensi tersebut harus dihadapi dengan positive atau negative thinking. “Kalau kita menerimanya dengan negative thinking, ya kita akan menderita,” jelasnya.

Intinya adalah bagaimana seseorang merespon sebuah stimulus akan menentukan kebahagiaan orang tersebut. Sudhamek sepakat dengan teori psikologi logotherapy yang dikembangkan oleh Viktor Frankl. Yakni, teori untuk memaknai sebuah stimulus. Tahap memaknai ini ada di antara stimulus dan respon. “Sebelum merespon sebuah stimulus, ada tahapan memaknai yang disebut dengan the box of freedom,” katanya. Nah, the box of freedom ini ada di dalam masing-masing manusia. Tergantung apakah mau merespon stimulus dengan negatif atau positif. “Pada konsep ini, kebahagiaan bergantung pada pikiran masing-masing,” kata dia. Karena itu, Sudhamek akan merasa tidak bahagia apabila dirinya tidak bisa mengendalikan pikirannya untuk merespon sebuah keadaan.

Sementara, dirinya akan merasa bahagia apabila mampu memberikan manfaat bagi orang lain: keluarga, lingkungan, dan rekan kerja juga karyawan. “Bila yang kita lakukan mampu memberi manfaat bagi orang lain, itu sangat membahagiakan,” jelas dia.

Lalu bagaimana Sudhamek menerapkan konsep kebahagiaan tersebut di dalam perusahaan? Menurut dia, perusahaan harus bertumbuh untuk tetap bertahan. Namun, pertumbuhan tersebut tidak perlu dipaksakan. “Kalau kita berpikir, sebuah target pertumbuhan mau-tidak mau harus dicapai dan kemudian tidak tercapai seperti yang ditargetkan, maka pada saat itulah kita akan menderita,” ujarnya. Tetapi, akan berbeda bila cara berpikirnya diubah menjadi, “oke saya akan bertumbuh, saya akan kerjakan sebaik-baiknya dengan team work yang baik. Kalau kemudian tidak tercapai maka respon sikap mental kita menjadi lebih besar, tidak menderita,” terangnya.

Dalam masing-masing karyawan juga diterapkan konsep happiness. Sudhamek percaya bila karyawan bahagia maka kinerja karyawan dan perusahaan juga akan meningkat. Misalnya, baru-baru ini Garudafood membuat Model Leader Development Program. Melalui program ini, karyawan dibantu untuk menemukan pekerjaan sesuai dengan calling (panggilan)-nya. Apabila karyawan ditempatkan pada bidang yang sesuai dengan kecintaannya, maka mereka akan bekerja dengan perasaan bahagia.

Garudafood juga membangun manusia yang kompeten sekaligus saleh (spiritual). Menurut Sudhamek, seseorang yang saleh lebih mampu mengendalikan pikiran untuk merespon keadaan. “Dari kesalehan akan muncul kreatifitas dan melahirkan karya-karya besar karena karyawan bekerja dengan nyaman, tentram dan bahagia,” jelas dia. Contoh konkretnya, setiap akan memulai rapat, anggota tim Garudafood diajak untuk mengatur pernafasan. Tujuannya, untuk membuat pikiran karyawan berada pada kondisi saat ini dan di tempat ini. “Kadang, yang membuat tidak bahagia itu karena pikiran kita melayang ke masa lalu atau masa depan,” katanya. Memikirkan masa lalu dan/atau masa depan hanya akan memunculkan romantika dan juga kekhawatiran akan masa depan. “Maka itu, kita kembalikan pikiran mereka pada saat ini dan di tempat ini,” terangnya.


Sumber:
http://swa.co.id/profile/sudhamek-aws-pandang-happines-dari-duniawi-dan-spiritual
http://www.orangterkayaindonesia.com/profil-sudhamek-orang-di-balik-kesuksesan-garuda-food/
http://studentpreneur.co/seri-orang-terkaya-di-indonesia-3-sudhamek-aws/