Profil Entrepreneur
Dr. (HC) Martha Tilaar
Dr. (HC) Martha Tilaar
Martha Tilaar (lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 4 September 1937) adalah seorang pengusaha Indonesia yang bergerak di bidang kosmetika dan jamu dengan nama dagang Sariayu. Ia menikah dengan H.A.R Tilaar dan memiliki empat anak, Bryan Emil Tilaar, Pinkan Tilaar, Wulan Tilaar, Kilala Tilaar. Bekerja sama dengan Kalbe Farma, ia membuat perusahaan kosmetika dan jamu Martina Berto. Selain itu ia juga memiliki usaha kerajinan di Sentolo, Yogyakarta bernama Prama Pratiwi Martha Gallery.Dia juga memiliki Kampung Jamu Organik di Cikarang, Bekasi.
Masa kecil Martha Tilaar tidak begitu indah, bahkan sejak dari kandungan. Ketika mengandung, ibunya kerap mengalami masalah kesehatan seperti tidak mau makan karena mual terus, tidak mau bergerak, dan tidak mau melihat sinar matahari. Ketika masih bayi juga kerap diserang penyakit hingga 13 dokter harus merawatnya. Ketika beranjak remaja, ibunya mengajarkan untuk berjualan kecil-kecilan, menghitung uang, dan memisahkan telur segar dari telur yang busuk. Tak seperti yang ditakutkan ibunya, dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar.
Masa kecil Martha Tilaar tidak begitu indah, bahkan sejak dari kandungan. Ketika mengandung, ibunya kerap mengalami masalah kesehatan seperti tidak mau makan karena mual terus, tidak mau bergerak, dan tidak mau melihat sinar matahari. Ketika masih bayi juga kerap diserang penyakit hingga 13 dokter harus merawatnya. Ketika beranjak remaja, ibunya mengajarkan untuk berjualan kecil-kecilan, menghitung uang, dan memisahkan telur segar dari telur yang busuk. Tak seperti yang ditakutkan ibunya, dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar.
Memasuki masa remaja, Martha Tilaar tumbuh menjadi gadis yang tomboy. Meski rumah kakeknya dikelilingi pagar tinggi, tetap saja bisa “kabur” untuk bermain layang-layang atau berenang di sungai bersama teman-temannya yang kebanyakan laki-laki. Martha Tilaar juga nakal suka mengambil uang ibunya, suatu kali ibunya memergokinya. Ibunya berkata jika ingin punya uang banyak harus bekerja keras. Uang jajannya sudah terkumpul dan membeli kacang di toko, lalu ia bungkus dan dijual ke teman-temannya. Bakat wirausahanya mulai muncul ketika itu.
Martha Tilaar gemar berenang hingga kulitnya tidak terawat dan rambut panjangnya memerah. Di antara saudaranya, Martha Tilaar bisa dikatakan yang paling jelek karena tidak mau merawat diri. Ibunya mengingatkannya kelak kalau sudah lulus dan jadi guru harus bisa menjaga penampilan di depan kelas. Karena bandel, ibunya memaksanya untuk mengikuti les tata kecantikan dengen Titi Purwosoenoe. Anehnya, sejak mengikuti les kecantikan itu Martha Tilaar tiba-tiba jatuh cinta pada seni berdandan itu.
Ketika harus mendampingi sang suami Prof Dr. H.A.R. Tilaar di Amerika Serikat, Martha Tilaar juga menuntut ilmu di Academy of Beauty Culture, Indiana, Amerika Serikat, Martha Tilaar membuka salon kecantikan untuk orang-orang Indonesia di sana.
Peraih gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam bidang "Fashion and Artistry" dari World University Tuscon, Arizona, AS tahun 1984, Setelah lulus dari , dan pulang ke Indonesia, langsung membuka “Martha Salon” di garasi rumah orangtuanya di Jalan Kusuma Atmaja No. 47, Menteng, Jakarta Pusat pada tanggal 3 Januari 1970. Dua tahun kemudian, Martha Tilaar membuka salon keduanya di Kebayoran Baru yang diberi nama Martha Griya Salon. Di Martha Griya Salon, mulai memperkenalkan perawatan kecantikan tradisional berbahan tanaman herbal untuk pertama kalinya.
Peraih gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam bidang "Fashion and Artistry" dari World University Tuscon, Arizona, AS tahun 1984, Setelah lulus dari , dan pulang ke Indonesia, langsung membuka “Martha Salon” di garasi rumah orangtuanya di Jalan Kusuma Atmaja No. 47, Menteng, Jakarta Pusat pada tanggal 3 Januari 1970. Dua tahun kemudian, Martha Tilaar membuka salon keduanya di Kebayoran Baru yang diberi nama Martha Griya Salon. Di Martha Griya Salon, mulai memperkenalkan perawatan kecantikan tradisional berbahan tanaman herbal untuk pertama kalinya.
Dua salon miliknya semakin berkembang pesat. Lima tahun kemudian, Martha Tilaar bekerja sama dengan pemilik Kalbe Group, Theresia Harsini Setiady, untuk mendirikan perusahaan kosmetika dan jamu, PT. Martina Berto. Sariayu Martha Tilaar adalah produk pertama mereka. Pada tahun 1981, PT. Martina Berto mendirikan pabrik modern pertama di Pulo Ayan, Pulogadung Industrial Estate. Pada tahun 1986, pabrik kedua didirikan pada Pulo Kambing, Pulogadung Industrial Estate. Tahun 1983, Martha Tilaar mendirikan PT. Sari Ayu Indonesia sebagai distributor produk kosmetika Sariayu Martha Tilaar.
Pada tahun 1993, perusahaan mengakuisisi pabrik kosmetik PT Cedefindo sebagai manufaktur kontrak untuk internal dan eksternal. Pada tahun 1995, PT Martina Berto III didirikan di Gunung Putri, Bogor. Pada tahun 1996 PT Martina Berto menjadi pabrik kosmetik pertama di Indonesia yang memperoleh 9001 certification.In ISO 2000, perusahaan ini menjadi satu-satunya pendiri Global Compact PBB dari Asia, juga mendapatkan sertifikat ISO 14001 dan sertifikat GMP: CPKB (Cara Produksi kosmetika Yang Baik) dan CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional Yang Baik). Pada tahun 2008, ia dianugerahi "Most Admired Enterprise di ASEAN" kategori 'Inovasi' dari Asean Bussiness Forum.
Kinerja dan perkembangan PT Martina Berto memiliki pertumbuhan begitu pesat, sejumlah penghargaan baik nasional maupun internasional juga telah di tangan. Baru-baru ini, DR. Martha Tilaar diberikan penghargaan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon pada UN Global Compact Leaders Summit di New York karena menjalankan perusahaan yang memiliki program meliputi 10 prinsip Global Compact etika, seperti hak asasi manusia, tenaga kerja, konservasi pengendapan, dan anti- korupsi sejalan dengan delapan tujuan pembangunan millennium.
Sampai tahun 1995, PT. Martino Berto berhasil mengakuisisi sejumlah perusahaan seperti PT Kurnia Harapan Raya, PT Cempaka Belkosindo Indah, PT Estrella Lab, dan PT Kreasi Boga. Bahkan pada tahun 1999, Martha Tilaar membeli seluruh saham PT Kalbe Farma yang ada pada PT Martina Berto. Dari sebuah salon kecantikan sederhana, berkembang menjadi Martha Tilaar Group (MTG). Grup usaha ini memayungi 11 anak perusahaan dan mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan.
Di tengah kesuksesan bisnisnya, Martha Tilaar sempat terpukul karena divonis mandul oleh dokter. Sudah belasan tahun menikah, Martha Tilaar belum juga diberi keturunan. Tapi Martha Tilaar tak menyerah, untungnya neneknya yang ahli jamu bisa mengobati kemandulannya dengan jejamuan. Hasilnya luar biasa, Martha Tilaar bisa hamil dalam usianya yang sudah menginjak kepala empat. Usianya ketika itu sudah 42 tahun, namun Martha Tilaar bisa melahirkan anak pertamanya. Bukan hanya satu, akhirnya Martha Tilaar bisa memiliki empat anak. Kebahagian keluarganya dilengkapi dengan kesuksesan bisnis kosmetika dan jamu yang sudah mati-matian dijalaninya.
Titik-picu 1987
Cerita lebih lanjut mengenai keberhasilan Martha Tilaar menjadi pengusaha papan atas, yang tetap komit mencintai produk dalam negeri demi membangun kemandirian bangsa khususnya di bidang jamu dan kosmetika, memulai titik-picu yang sesungguhnya pada tahun 1987. Ketika itu secara cerdik dan unik ia mempopulerkan "Senja di Sriwedari" sebagai trend tata rias baru, sebuah ide yang diilhami oleh kekayaan alam dan budaya Indonesia.
Sejak itulah Martha Tilaar selalu mempersuntingkan nama tempat dan unsur budaya suatu daerah, yang lalu dipadukan dengan trend busana daerah, ke setiap produk Sariayu Martha Tilaar. Sariayu berhasil tampil sebagai trendsetter tata rias wajah wanita Indonesia. Martha Tilaar memang sangat menghargai produk dalam negeri, seperti busana misalnya. Buktinya, saban hari ia selalu lekat dengan busana buatan dalam negeri. Ia kerap menggunakan kebaya, desainer batik, atau berbagai busana daerah Indonesia.
Pemerhati tata rias sangatlah paham benar akan apa yang disebut dengan konsep Gaya Warna Disainer (1998) sebuah tata rias yang mengambil unsur budaya Jawa Barat dan Kalimantan, Sumatera Bergaya (1989) dari Sumatera, Puri Prameswari (1990) mengambil dari etnik Cirebon dan Bali, Senandung Nyiur (1991) dari Pantai Indonesia, Riwayat Asmat (1992) dari Irian Jaya/Papua, Rama-Rama Toraja (1993), serta konsep-konsep dari berbagai daerah lain seperti Banda/Ambon, Jakarta, Aceh. Dan, puncaknya adalah trend warna Pusako Minang dari Minangkabu.
Berdasarkan strategi pendekatan etnik Martha Tilaar berhasil menjalin hubungan emosional dengan konsumen, bahkan berhasil menyelamatkan biduk bisnisnya dari hantaman krisis ekonomi. Sebab dengan konsep baru itu Martha Tilaar berhasil meraih penjualan besar bahkan bisnisnya pernah bertumbuh hingga 400 persen.
Perjalanan bisnis Martha Tilaar tidak selamanya mulus. Ia pernah mengalami jatuh-bangun atau pasang-surut usaha. Pernah, suatu ketika, bendera usaha Martha Tilaar sudah sedang berkibar orang masih saja memandangnya sebelah mata. Maklum, produk jamu kosmetika Sariayu Martha Tilaar sangat identik sekali sebagai produk lokal. Orang tahunya demikian saja tanpa mau mengenal bahwa produk Martha Tilaar sesungguhnya sudah mendunia, berkualitas, dan bergengsi. Bahkan, Sariayu Martha Tilaar sudah menjadi sebuah ikon produk lokal yang mendunia. Sebagai misal, Sariayu Martha Tilaar memiliki produk kosmetika berkelas Biokos, Belia, Caring Colours, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden dan lain-lain yang sudah terkenal sampai ke mancanegara.
Produk-produk itu dipasarkan di kantor-kantor pemasaran Martha Tilaar di luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, bahkan ke Los Angeles, AS. Ditambah di Paris, Perancis ia memiliki sebuah laboratorium penelitian parfum. Martha Tilaar juga memiliki puluhan spa di luar negeri yang tetap menempelkan merek dagang Martha Tilaar. Seperti di Malaysia, bertempat di Crown Princess Kuala Lumpur pembukaan spa Martha Tilaar dihadiri oleh Permaisuri Agung Siti Aishah. Spa ini didirikan khusus untuk memenuhi banyaknya permintaan terutama pelanggan dari salon di City Square, Kuala Lumpur.
Kembali ke kisah bagaimana dahulu orang memandang Sariayu Martha Tilaar masih sebelah mata. Walau bergemilang sukses dan bersohor nama di negeri asing, Martha Tilaar justru pernah merasakan sebuah kepahitan di tanah air. Itu, terjadi tatkala ia hendak menyewa dan membuka gerai jamu dan kosmetika di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta, persis di pusat perkantoran dan rumah tinggal kalangan berduit. Ia ditolak menyewa tempat. "Dulu kalau saya mau sewa tempat diusir. Mereka hanya mau menjual produk branded. Dibilang standar plazanya akan turun karena dianggap tidak ada image," kata Martha Tilaar, yang dalam hidup tak pernah mau menyerah apalagi berputus asa.
Respon atas penolakan itu Martha Tilaar menyegerakan mendirikan Puri Ayu Martha Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetika Sariayu sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen. Gerai dan pusat pelayanan konsumen ini berada dalam bendera usaha PT Martha Beauty Galery. Gerai Puri Ayu Martha Tilaar pertamakali berdiri di Graha Irama, di kawasan elit Kuningan, Jakarta Selatan, lalu berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.
Investasi Riset
Martha Tilaar mempunyai komitmen tinggi membangun industri kosmetika. Ia investasi besar di bidang riset dan pengembangan (R&D). Ia mau mengirim staf ahli farmasinya belajar ke luar negeri, atau mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Ia memiliki dua orang staf ahli farmasi bergelar doktor, sejumlah magister dan sarjana strata satu lainnya. Berdasar komitmen kuat itu Martha ingin menunjukkan kepada bangsa-bangsa di dunia bahwa Indonesia bisa unjuk diri dan tidaklah ketinggalan di bidang kosmetika dan tata rias.
R&D memberi hasil lain. Martha Tilaar perlahan-lahan berhasil mengurangi ketergantungan kandungan bahan baku impor, berganti dengan bahan baku lokal di setiap produknya. Hasil lain lagi, ini yang lebih mencengangkan, pada bulan Juli 2002 Sekjen PBB Kofi Annan mengundang Martha Tilaar hadir dalam forum Global Compact, di New York, AS.
Di forum itu para pengusaha yang diundang diminta mempromosikan praktik berbisnis yang baik dalam bidang hak asasi manusia, tenaga kerja, dan lingkungan, yang telah dipraktikkan. Tujuannya agar setiap pengusaha menempatkan masalah sumberdaya manusia, sumberdaya alam, lingkungan, dan hak-hak asasi manusia sebagai prioritas penanganan dunia usaha.
Ketika berbicara pada pertemuan Komite Pengarah Nasional Global Environment Facility (GEF)/Small Grant Program, di Jakarta, 5 Oktober 2004, Martha Tilaar kembali mengangkat ulang komitmennya yang tinggi terhadap produk lokal dalam nada berbeda. Martha sangat menyayangkan betapa produk-produk lokal yang selama ini diklaim sebagai warisan budaya, seperti rendang masakan Padang, atau songket kain dari Pelembang, itu ternyata sudah didaftar-patenkan oleh tetangga negeri serumpun Malaysia. Ia pun khawatir akan jamu, yang dari zaman kapanpun kita merasa itu milik kita, keburu dipatenkan pihak asing.
Perjalanan bisnis Martha Tilaar agaknya tak juga lepas dari keajaiban pekerjaan tangan Tuhan. Walau pernah mengalami nyaris bangkrut, atau pecah kongsi, biduk usahanya tetap terpelihara baik.
Martha melahirkan konsep community trade bersama rekannya Emmy Pratiwi, karena itu namanya disebut Prama Pratiwi Martha Gallery yang menyediakan segala fasilitas produksi industri kerajinan. Hasilnya sangat memuaskan. Ketekunan para perajin dan tekad mau berkembang membuat mereka cepat berhasil. Produk dari para perajin sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor ke Perancis, Australia, dan Amerika.
Martha juga mendirikan Yayasan Martha Tilaar. Ia mendidik banyak wanita dan ibu-ibu tentang kecantikan. Tujuannya agar mereka mengerti kecantikan sehingga bisa merawat diri. Namun yang terutama agar mereka mempunyai keterampilan tentang kecantikan, sesuatu yang pernah banyak menolong wanita di saat krisis multidimensi melanda bangsa termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan wanita maupun laki-laki di banyak perusahan lain. Bagi Martha Tilaar perempuan adalah pemersatu yang sangat besar perannya bagi keutuhan bangsa. Karena itu ia tak ingin perempuan terbelakang dalam soal pendidikan.
Bagi Martha di era modern seperti sekarang makna emansipasi bukan semata dimaknai untuk memperoleh persamaan hak dengan kaum pria. Melainkan jauh lebih besar dari itu berjuang demi memperoleh hak memilih dan menentukan nasib sendiri. "Sebenarnya yang perlu dituntut kaum perempuan, bukan hanya persamaan hak, tapi juga hak memilih dan menentukan nasib sendiri,"
Sumber:
http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/285-ensiklopedi/80-sariayu-bermula-dari-garasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Martha_Tilaar
http://www.tokohtokoh.com/martha-tilaar.html
http://www.marthatilaargroup.com/id/perusahaan/sejarah.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar