Minggu, 02 Maret 2014

L#66:  Fungsi Yang Tidak Bisa Didelegasikan
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Salah satu keterampilan yang sangat penting dalam kepemimpinan adalah ‘mendelegasikan’. Tanpa kemampuan mendelegasikan maka seorang pemimpin akan diperbudak oleh pekerjaan-pekerjaan teknisnya. Tengok saja contoh disekitar kita. Berapa banyak manager yang masih mengerjakan tugas yang mestinya diselesaikan oleh anak buahnya? Berapa banyak juga direktur yang masih disibukkan oleh urusan-urusan kecil. Padahal, fungsi mereka mestinya lebih banyak menangani aspek-aspek strategis. Setiap pemimpin memang mesti membangun kemampuan anak buahnya sampai pada level ‘handal’. Jika tidak, maka mereka tidak akan bisa mendelegasikan. Sekalipun demikian, ada satu fungsi pemimpin yang sama sekali tidak bisa didelegasikan. Meskipun kita punya anak buah yang sangat mumpuni. Tahukan Anda fungsi apakah itu?
 
Ingat kembali ketika pekerjaan Anda sedang banyak-banyaknya. Lalu Anda melihat bahwa ada beberapa tugas yang bisa dikerjakan oleh anak buah Anda. Maka, Anda memilih tugas-tugas tertentu yang boleh dan bisa dikerjakan oleh anak buah Anda. ‘Boleh’ dalam pengertian tidak melanggar batasan otoritas, atau tingkat ‘confidentiality’-nya rendah. Mengapa begitu? Karena ada tugas-tugas tertentu yang hanya level kita yang boleh tahu. Hal itu berkaitan dengan rahasia perusahaan, atau aspek-aspek lain yang sudah menjadi konsensus untuk hanya diketahui oleh jabatan atau tingkatan tertentu.
 
‘Bisa’ dalam pengertian tidak melampaui batas kemampuan anak buah. Mengapa begitu? Karena tugas-tugas yang didelegasikan tidak sesuai dengan kemampuan anak buah hanya akan menimbulkan banyak masalah. Hal itu mudah dipahami secara kognitif. Tetapi pada kenyataannya cukup banyak juga atasan yang ‘mendelegasikan’ tanpa mempertimbangkan kemampuan anak buahnya. Dan ketika timbul masalah, anak buahnyalah yang dipersalahkan. Padahal, pendelegasian itu sama sekali bukanlah ‘pengalihan tanggungjawab’. Setiap tugas yang didelegasikan, tetap menjadi tanggungjawab atasan. Sehingga baik buruknya menjadi tanggungjawab dirinya. Oleh karenanya, pendelegasian itu mesti diberikan kepada anak buah yang mampu menyelesaikannya dengan kualitas pekerjaan sesuai standar kita.
 
Bayangkan Anda mempunyai anak buah yang perlu meningkatkan kemampuannya dalam suatu aspek tertentu. Lalu Anda meminta seorang karyawan senior yang sudah jago dibidang itu untuk melatih mereka. Maka Anda tidak perlu turun tangan untuk melatihnya langsung kan? Anda juga bisa mengundang pelatih dari luar perusahan untuk menjalankan fungsi itu kan? Untuk semua hal teknis, Anda bisa mencari orang yang tepat untuk mendelegasikan. Dalam konteks dan lingkup tertentu, beberapa hal strategis pun bisa didelegasikan asal sesuai dengan batasan otoritas orang yang mendapatkan pendelegasian itu.
 
Sekarang, coba bayangkan. Anda mempunyai anak buah yang membutuhkan figur keteladanan. Kita sudah sejak lama paham bahwa salah satu aspek yang paling sering hilang dalam konteks kepemimpinan kita adalah; lemahnya keteladanan. Atasan bisa dengan mudah menyuruh ini atau itu. Tapi mereka sendiri tidak melakukannya. Boss bisa menuntut anak buahnya untuk berdisiplin soal ini dan itu. Tetapi, perilakunya sehari-hari jauh dari nilai-nilai kedisiplinan seperti yang dituntutnya dari orang lain. Banyak fenomena seperti itu kan sekarang.
 
Pertanyaannya adalah; apakah kita bisa mendelegasikan perilaku baik itu kepada salah seorang anak buah terbaik kita? Misalnya, kita punya satu anak buah yang kerjanya bagus. Disiplinnya juga bagus. Apakah kita pantas mengatakan; “Saudara-saudara, contohlah Mr. A ini dalam soal disiplin…” Padahal kita sendiri tidak tidak punya kedisiplinan yang baik? Tentu tidak pantas. Malahan, kata-kata kita hanya akan menimbulkan cemoohan dalam hati anak buah. Didepan mata kita mungkin mereka patuh mendengar. Tapi dibelakang? Boleh jadi mereka menggunjingkan diri kita bersama teman-teman yang lainnya.
 
Hal ini menunjukkan bahwa ada satu fungsi kepemimpinan yang tidak bisa didelegasikan kepada siapapun. Fungsi apakah itu? Fungsi KETELADAN, tidak bisa didelegasikan. Mesti kita sendiri yang menunjukkan keteladanan kepada semua orang yang kita pimpin. Tidak gampang memang untuk menjadi teladan bagi anak buah kita. Karena kita dituntut untuk menjadi pribadi yang memiliki keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Karena tidak gampang itu, maka hanya sedikit pemimpin yang seperti itu. Karena tidak gampang itu, maka pemimpin yang bisa menunjukkan keteladanan dengan baik selalu menjadi pemimpin yang dihormati oleh anak buahnya. Pemimpin yang bukan hanya ditakuti, melainkan dituruti dan diikuti. Mengapa begitu? Karena sudah menjadi sifat manusia untuk menaruh hormat kepada pribadi yang memiliki integritas tinggi.
 
Untuk menjadi seorang teladan, kita tidak perlu menjadi pribadi yang sempurna. Karena kesempurnaan bukanlah milik manusia. Maka seorang pemimpin yang memberikan keteladanan bagi anak buahnya adalah pemimpin yang sadar bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan. Namun dia terus menerus melakukan perbaikan pribadi. Inilah yang dilihat oleh anak buahnya. Inilah yang menjadikannya layak untuk diteladani orang-orang yang dipimpinnya. Inilah, orang yang layak dipatuhi oleh para pengikutnya. Dan inilah; pribadi yang disayangi Ilahi. Sehingga soal keteladan ini, tidak bisa didelegasikan kepada orang lain.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 19 Desember 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Untuk menjadi teladan bagi anak buah tidak mesti menjadi pribadi sempurna. Cukup dengan melaksanakan apa yang kita perintahkan kepada orang lain. Supaya orang bukan hanya mendengar kata-kata kita. Melainkan melihat kita menerapkannya dalam keseharian kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar