Sabtu, 08 Maret 2014

Refleksi Pembelajaran Minggu Ke-3
Resources Management


Ada hal menarik ketika kita ingin membangun dan mengembangkan bisnis yang dijalani. Kebanyakan dari diri kita jarang atau bahkan lupa akan mengkaji kelebihan dan kekurangan diri kita sendiri sebelum memulai usaha atau mengembangkan usaha. Sehingga yang terjadi adalah kita bukan memulai atau membangun bisnis kita sendiri tetapi memulai atau membangun bisnis orang lain...Lho kenapa bisa begitu? Karena pada dasarnya yang kita mulai atau yang dikembangkan itu bukan berasal dari kemampuan atau kelayakan dasar yang kita punyai. Disini kita harus belajar untuk dapat membedakan antara keperluan dengan keinginan kita. Keinginan kita saat ini tentunya banyak sekali...Ingin punya ini, itu. Tetapi apakah keinginan ini, itu..adalah memang yang kita perlukan? Tentunya jawaban relatif, tergantung dari hasil analisa terhadap diri kita sendiri.

Pada pelajaran minggu ke-3 ini, banyak yang dapat diambil point pentingnya. Karena pada dasarnya Resources Management, adalah mengelola apa yang kita miliki saat ini, bukan mengelola apa yang akan kita miliki, karena yang akan kita miliki, baru sebatas mimpi bukan?

Resources (Sumber Daya) apa yang kita miliki saat ini? Dengan mengetahui sumber daya-sumber daya yang kita miliki saat ini, kita dapat memprediksi usaha kita akan berada dimana sebulan, atau setahun kedepan. Dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, tidak ada alasan untuk kita menunda memulai usaha, atau menunda mengembangkan usaha. Memulai dan mengembangkan usaha dengan langkah-langkah kecil tentunya, apabila sumber daya yang kita miliki sangat terbatas.


Sumber daya yang kita miliki diantaranya:
  1. Sumber Daya Finansial
  2. Sumber Daya Fisik
  3. Sumber Daya Manusia
  4. Sumber Daya Teknologi
  5. Sumber Daya Reputasi Organisasi
Pada saat awal ketika memulai bisnis biasanya, bisnis yang dimulai berdasarkan passion yang kita miliki, sehingga terkadang usaha itu berjalan apa adaya. Seperti tidak adanya pemisahan antara keuangan usahan dengan pribadi, tidak adanya pencatatan atau pembukuan keuangan yang baik, organisasi usahapun belum dikelola, artinya sumber daya masih terbatas. 
Pada saat usaha sudah mulai mendapatkan keuntungan dan usaha sudah dimungkinkan untuk dikembangkan, sistem atau model bisnis pun sudah mulai dipikirkan. Pegawai yang sudah ada, perlatan kerja sudah bertambah, langganan sudah mulai banyak, dan usaha sudah mulai dikenal oleh lingkungan atau pasar. Disini kita selaku entrepreneur sudah harus memikirkan management atas sumber daya kita yang dimiliki agar usaha kita dapat menghasilkan profit yang optimal.
Lakukan optimalisasi atas sumber daya yang kita miliki dengan mengelola sumber daya tersebut dengan tepat waktunya, lokasinya, dan gunanya.

Effectual Entrepreneurship
Mengelola sumber daya yang ada sangat terbantu dengan keahlian seorang entrepreneur yaitu berfikir secara efektual. Bagaimana berpikir secara efektual itu? Berpikir efektual lawan padanannya adalah berpikir kausal. Berpikir efektual dikembangkan oleh Saras D Sarasvathy, ahli psikologi berpikir. 
Berpikir efektual didefinisikan sebagai sebuah logika berpikir pengusaha yang unik ketika memulai bisnis yang mana logika tersebut menyediakan cara untuk mengontrol masa depan yang tak terduga. Contoh kasusnya seperti ketika kita akan memasak: kalau mengikuti resep yang telah tersedia, kita akan berusaha melengkapi bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan resep tersebut (cara berpikir kausal), tetapi dengan berfikir efektual, ketika kita akan memasak bahan apa yang tersedia, dari bahan tersebut makanan apa yang dapat dibuat. 

Cara berpikir efektual ini bukan seperti pola berpikirnya manager untuk mengejar target yang telah ditetapkan tetapi menggali apa yang ada dalam diri kita untuk dapat dijadikan sesuatu yang berarti, mungkin melebihi target-target yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Prinsip-prinsip berpikir efektual adalah sebagai berikut:

  1. Bird in Hand : apa yang dimiliki (siapa diri kita, apa yang dapat dilakukan, siapa yang kita kenal). Do what you can do, with what you have, where you are.
  2. Affordable Lost: sejauh mana kita dapat menanggung kerugian.
  3. Lemonade Principle: hidup seperti lemon (kecut) buatlah menjadi lemonade (limun)
  4. Crazy Quilt: kemampuan membangun network, berinteraksi dengan orang yang dikenal.
  5. Pilot in the Plane: determinasi diri, bertindak tidak hanya mengantisipasi tetapi mempersiapkan diri untuk segala sesuatu yang akan terjadi dikemudian hari.

Siklus berpikir Efektual

Tranformasi dengan intensitas, fokus dan konsiten

Setelah kita mengetahui sumber-sumber daya yang kita miliki dan ilmu untuk mengelola sumber daya tersebut, ditambah dengan proses berfikir yang efektual, kekuatan-kekuatan tersebut dapat ditransformasikan dengan cara terlibat secara langsung dalam detail-detail pekerjaan, kemudian fokus dan konsistenlah agar usaha dapat menjadi berkembang, demikian yang disampaikan oleh Bapak Sudhamek. 
Sebuah karya besar pasti memperhatikan detail-detail yang kecil kata beliau. Tranformasikan menjadi lebih baik sehingga usaha kita dapat bertumbuh. Pertumbuhan dalam usaha sendiri dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: secara organik yaitu menumbuhkan usaha dengan pasar dan produk yang sudah ada atau dengan cara inorganik yaitu dengan melakukan akuisisi sebuah usaha lain, akuisisi ini memerlukan kompetensi tersendiri. 
Transformasi dapat dilakukan dengan learning by doing dimana seorang entrepreneur harus siap dengan segala resikonya. Sekali kehilangan fokus dapat berakibat fatal dalam sebuah usaha.

Entrepreneur sukses dengan 4 kompetensi, demikian Bapak Sudhamek menyampaikan, yaitu:
  1. Know How (Ilmu Tentang Bisnis Yang Dijalankan): Setiap bisnis yang dijalankan ada ilmunya maka kenali dan pahamilah ilmunya.
  2. Success Rate ditentukan oleh bagaimana memanage network: network ke belakang dengan supplier, kedepan dengan customer.
  3. Bisnis butuh uang: bagimana mendatangkan uang tersebut dengan share holder, atau perbankan.
  4. Management: memerlukan leadership dalam memanage semua sumber daya yang ada.

Lakukan pertumbuhan usaha dari bawah, jangan pernah melakukan dengan pendekatan quick and dirty. Jangan pernah menyerah karena sukses itu tidak mudah, sukses itu perlu perjuangan yang luar biasa.

Idealnya seorang pengusaha itu mempunyai tiga karakter yaitu:
  • Kepintaran diatas rata-rata, karena dituntut untuk lebih mengetahui atas usaha yang dijalankannya.
  • Bekerja dengan sangat keras
  • Jangan menyerah sebelum waktunya tiba untuk kesuksesan.
 Kiat Bisnis DJITU dari Ibu Martha Tilaar
Apa kiat bisnis DJITU tersebut: Disiplin, Jujur, Inovatif, Iman Kuat, Tekun (Fokus), dan Ulet (hardwork dan konsisten). Dengan kiat tersebut Ibu Martha Tilaar menggali potensi kekayaan budaya dan alam Indonesia dengan pendekatan scientific, menjadi sesuatu yang berharga pada bisnis yang beliau jalankan sehingga produk-produk yang dikeluarkan dapat diterima baik pasar domestik maupun pasar internasional.

Demikian ulasan refleksi pembelajaran pada Minggu Ke-3 ini, mudah-mudahan dapat menjadi renungan bagi saya khususnya, bagaimana untuk mengelola dan memanage sumber daya-sumber daya yang dimiliki, ditambah dengan pendekatan-pendekatan yang telah dipraktikkan oleh para pengusaha-pengusaha sukses.

Bekasi, 8 Maret 2014


2 komentar:

  1. Wow... dahsyat....
    Salam Kenal Pak Ridwan....

    BalasHapus
  2. Salam Kenal Mas Dedi...saya yakin anda lebih dahsyat....Ayo kembangkan kedahsyatan kita..untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dari semua sisi. Sisi pengetahuan, skill, cara berpikir, dan perilaku kita...Lihat dan rasakanlah perkembangan tersebut dari waktu ke waktu...Insya Allah secara ekonomi kita pun akan terangkat...Salam Entrepreneur

    BalasHapus