Rabu, 26 Februari 2014

Profil Entrepreneur
Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan
Orang Miskin Yang Jadi Raja Media dan Menteri BUMN

Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan (lahir di Magetan, tepatnya di desa Kebun Dalam Tegalarum, Kecamatan Bando, Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951, adalah mantan CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group yang bermarkas di Surabaya posisinya tersebut kemudian digantikan oleh putranya, Azrul Ananda. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar. 

Dahlan Iskan tidak pernah tahu tepatnya tanggal dan bulan ia dilahirkan, sampai saat ini tanggal yang ia gunakan sebagai tanggal lahir adalah karangannya sendiri. Ia menggunakan tanggal 17 Agustus 1951 sebagai hari kelahirannya karena tanggal itu tepat hari kemerdekaan Indonesia sehingga mudah diingat. Selain itu mungkin ia juga ingin tersemangati dengan tanggal itu seperti semangat para pejuang tahun 45.

Masa Kecil Dahlan Iskan 
Dahlan Iskan adalah anak dari pasangan Mohammad Iskan dan Lisnah. Dahlan adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bernama Khosyatun, kakak keduanya bernama Sofwati sedangkan adik bungsunys bernama Zainuddin. 
Orang tua Dahlan Iskan bukanlah orang kaya, bahkan sangat miskin sekali. Dahlan dan saudara-saudaranya terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Kehidupan telah menempa Dahlan kecil menjadi pribadi yang tangguh. Sering ia dan saudaranya merasa perih di perut karena menahan rasa lapar, ia belitkan sarung di perutnya. Kemiskinan bukan berarti harus meminta-minta untuk dikasihani melainkan harus dihadapi dengan bekerja dan berusaha. Ayah Dahlan pernah berkata “ Kemiskinan yang dijalani dengan tepat akan mematangkan jiwa”. Begitulah prinsip keluarga Dahlan. 
Pada saat kecil Dahlan Iskan hanya memiliki baju satu stel yaitu kaos dan celana serta satu sarung. Sarung adalah baju serba guna bagi dahlan, saat beribadah ia gunakan sarung, saat baju dan celana nya dicuci , ia gunakan sarung sampai pakaiannya kering, saat tidur di malam hari ia gunakan sarung untuk selimut. Ketika sekolah ia tidak mempunyai sepatu. Saat itu jarak antara rumah dan sekolahnya puluhan kilometer, sehingga ia dan saudaranya menempuhnya dengan berjalan kaki dengan merasakan lecet di telapak kaki karena tak bersepatu. Sehingga ia menyimpan keinginan besar (menurutnya saat itu) yaitu bisa memiliki sepeda dan sepatu (cerita ini bisa anda baca di buku “Sepatu Dahlan”). 

Kenangan Tentang Ayah dan Ibunya 
Tentang ayah dan ibu Dahlan, yang ia ingat tentang orang tuanya adalah bahwa ayah dan ibunya adalah sosok yang bersahaja. Ayah dan ibunya adalah pasangan yang harmonis, walaupun hidup serba kekurangan, ayah dan ibunya hampir tidak pernah bertengkar. Ada cerita menarik tentang orang tua Dahlan. Di dekat rumah Dahlan ada kebun pisang milik keluarganya, saat itu daun pisang sedang lebat-lebatnya. Ibu Dahlan sangat senang melihat daun pisang yang rimbun. Tanpa sepengetahuan istrinya, ayah Dahlan memotong daun pisang itu dan menjualnya ke pasar karena butuh uang, kontan saja saat ibunya mengetahui, ia sangat marah dan terjadilah adu mulut antar keduanya. Itulah satu-satunya pertengkaran yang pernah terjadi diantara orang tua Dahlan. 
Suatu saat ibu Dahlan terserang penyakit yang membuat perutnya membesar. Karena orang desa dan tak punya biaya, mereka tak tahu itu penyakit apa. Akhirnya ibu Dahlan meninggal dunia. Ketika dewasa Dahlan baru tahu bahwa penyakit ibunya itu adalah sejenis kista yang dengan operasi sederhana bisa sembuh. Jika Dahlan mengingat itu, kecewa hatinya. Saat itulah Dahlan bertekad menjadi orang pandai, kaya dan sukses. Agar tidak terjadi lagi hal seperti itu di kehidupannya. 

Kenakalan Dahlan Kecil 
Sepulang sekolah, Dahlan tak lantas bermain-main. Ia harus bekerja membantu orang tuanya seperti menyabit rumput, menjadi kuli seset di kebun tebu, menggembala kambing dan lainnya. Namun hal ini tak lantas membuat Dahlan kecil kehilangan keceriaannya. Ia tetaplah menjadi anak kecil yang periang dan sesekali nakal. 
Pernah suatu hari, karena sangat ingin memiliki sepatu, Dahlan membongkar lemari ayahnya guna mencari siapa tahu ayahnya menyimpan sejumlah uang disana. Ia juga pernah mendapatkan nilai merah di raport-nya. Ketika ia telah berhasil memiliki sepatu, ia tetap ‘nyeker’ berjalan ke sekolah dan sepatunya ia ‘tenteng’ agar tetap awet dan tidak rusak. 
Kisah kenakalan Dahlan kecil yang lain adalah sewaktu pulang sekolah, ia dan adiknya yang bernama Zainuddin bekerja menggembalakan kambing, “Waktu itu masih SD. Setelah pulang sekolah, kami biasa menggembala domba di pinggir sungai desa,” kata Zainuddin. Sambil menggembala domba, ia dan teman-temannya bermain wayang dari ranting ketela pohon. “Karena keasyikan, enggak tahu ternyata domba-dombanya sudah lewat dan kembali ke kandang di rumah.” Mereka berdua sangat ketakutan sekali jika dimarahin bapaknya, namun mereka akhirnya lega karena jumlah domba yang kembali lengkap 30 ekor. 
Pengalaman kenakalan Dahlan waktu kecil yang lain adalah saat adu menunggang kerbau dan Dahlan terjatuh dari kerbaunya yang mengakibatkan mulutnya terluka.

Dahlan Iskan Dan Nafsiah Sabri 
“Dibalik keberhasilan seorang pria pastilah ada peran wanita hebat yang mendukungnya sepenuh hati”. Pepatah diatas pantaslah disematkan pada Dahlan Iskan dan Nafsiah Sabri. 
Nafsiah Sabri adalah wanita yang dipilih Dahlan untuk menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya. Nafsiah adalah wanita yang sholehah, pengertian, sabar, humoris, ceria dan mandiri. Hal itulah yang membuat Dahlan jatuh hati padanya. 
Awal pertemuan mereka adalah saat sama-sama mengisi ceramah agama di sebuah radio di semarang. Saat itu Dahlan belum menyatakan isi hatinya. Ia hanya berani menawarkan boncengan sepeda angin untuk Nafsiah saat akan berangkat siaran radio. 
"Dulu saya hanya punya sepeda dan berangkat boncengan. Saya lihat sepertinya Ia bisa menjadi ibu yang hebat," ucap Dahlan mengenang saat masa pedekate dengan Nafsiah Sabri. 
Pada tahun 1975, Dahlan Iskan yang ketika itu berusia 25 tahun dan Nafsiah Sabri yang berumur 22 tahun akhirnya menikah. 
Nafsiah Sabri adalah istri yang benar-benar mencintainya sepenuh hati, penurut dan tidak banyak menuntut. Hal ini tercermin dari Nafsiah yang mau dijadikan istrinya walaupun Dahlan belum menjadi apa-apa. Saat itu Dahlan Iskan hanyalah reporter lepas, DO dari kuliah dan tidak punya penghasilan tetap serta belum punya rumah. 
"Bahkan kehidupan sehari-hari lebih banyak dibantu dari gaji istri saya yang menjadi guru SD waktu itu. Ketika lahir anak pertama mereka, Azrul Ananda kita bisa menyewa rumah yang ada kamarnya meski di gang sempit," jelasnya. 
Dari pernikahan Dahlan Iskan dan Nafsiah Sabri, mereka telah dikaruniai dua orang anak yaitu Azrul Ananda dan Isna Fitriana. Walau hidup mereka saat itu serba kekurangan namun Nafsiah tetap setia dan mencintai Dahlan. Mulai dari Dahlanhanya seorang reporter lepas sampai saat Dahlan menjadi menteri BUMN, Nafsiah selalu menemaninya bahkan saat Dahlan ditransplatasi hati, Nafsiah jugalah yang mempersiapkan segala kebutuhannya. 
Sebagai seorang istri, Nafsiah 100% mendukung karir suaminya. Saat Dahlan Iskan harus turun ke jalan menjual e-toll card, Nafsiah juga ikut membantu suaminya berpanas-panasan menjajakan e-toll card. 
Nafsiah sangat mahir memasak. Dahlan Iskan sangat menyukai masakan istrinya bahkan ia sering membanggakan dan menawarkan masakan istrinya itu ke wartawan dan stafnya untuk ikut mencicipi. Saat Dahlan pulang dari chek up kesehatan di Singapura, Dahlan langsung pulang kerumah dan bersama stafnya menikmati masakan istri tercintanya, Nafsiah Sabri. 

Karir Dahlan Iskan 
Dahlan Iskan mulai bersekolah di madrasah yang juga disebut sekolah rakyat (sekarang bernama sekolah dasar). Setelah tamat ia melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama, kemudian ke sekolah aliyah setingkat SLTA. 

Setamat SLTA, Dahlan Iskan melanjutkan sekolahnya di fakultas hukum IAIN Sunan Ampel dan di Universitas 17 Agustus. Semasa kuliah ia lebih senang mengikuti kegiatan kemahasiswaan seperti Pelajar Islam Indonesia dan menulis majalah mahasiswa dan koran mahasiswa ketimbang mengikuti kuliah. Karena keasyikannya itu ia jadi tidak meneruskan kuliahnya. 

Kemudian Dahlan Iskan hijrah ke Samarinda, Kalimantan Timur pada tahun 1975, disana ia numpang di rumah kakak tertuanya. Disana ia menjadicalon reporter Harian Mimbar Masyarakat di Samarinda. Tulisan Dahlan banyak yang meminatinya. 

Pada Tahun 1976, Dahlan kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai wartawan majalah Tempo. Saat itu terjadi musibah yang bersejarah yaitu tenggelamnya kapal Tampomas. Dahlan menulis tentang musibah tersebut dengan sepenuh hati dan meletakkannya di Headline News Tempo. Tak disangka hasilnya sangat luar biasa, dari respon pembaca banyak yang menyukai gaya Dahlan menulis. Hal inilah yang membuat pimpinan Tempo mengangkat Dahlan sebagai kepala biro Tempo Jatim. 

Walau sudah bekerja dan menulis untuk Tempo, diam-diam Dahlan juga menulis untuk koran lain seperti Surabaya Post dan surat kabar mingguan seperti Ekonomi Indonesia sebagai tambahan penghasilan. Hal ini diketahui oleh pimpinan Tempo dan menegur Dahlan. 

Dahlan Iskan dan Jawa Pos 
Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di surat kabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat surat kabar sendiri. Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula koran berbahasa Mandarin dan Belanda. Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. 

Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris. 

Saat itu terdengar kabar bahwa Jawa Pos dibeli oleh Direktur Utama PT Grafiti Pers, Penerbit Tempo yaitu Eric Samola. Melihat prestasinya yang lumayan dan keinginan Dahlan untuk berbuat lebih, tahun 1982 ia dipromosikan menjadi pemimpin Koran Jawa Pos. 

Awalnya koran Jawa Pos bernama Java Post kemudian diganti dengan Djawa Post dan diganti lagi menjadi Jawa Pos. Awalnya media masa Surabaya dikuasai oleh Surabaya Post dan Kompas. Saat Dahlan Iskan ditunjuk menjadi pimpinan Jawa Pos, Jawa Pos hampir bangkrut karena kalah bersaing. Perputarannya saja hanya 6.800 eksemplar. Namun Dahlan tidak berputus asa. Ia mencari akal untuk menyelamatkan Jawa Pos. 

Ketika itu budaya membaca koran adalah di sore hari. Melihat ini muncullah ide cemerlang Dahlan. Ia memutuskan bahwa Jawa Pos akan diterbitkan dan dibagikan di pagi hari. Ide ini di gulirkan Dahlan agar Jawa Pos seakan-akan bisa memberikan berita lebih cepat dari koran lain. 

Namun tidak semua stafnya menyetujui usul Dahlan karena bertentangan dengan kebiasaan masyarakat dalam membaca koran. Sore hari adalah saat santai, orang pulang kerja sembari santai dengan membaca koran. Sedangkan pagi hari, banyak orang diburu waktu untuk kerja. Mana mungkin ada waktu untuk membaca koran. Bagaimana nanti jika Jawa Pos tidak laku jika diterbitkan pagi hari. Begitulah argumen para stafnya yang tidak setuju dengan usul Dahlan. 

Namun Dahlan tidak menyerah, justru inilah kesempatan Jawa Pos. Saat koran lain belum terbit, Jawa Pos mendahului untuk terbit dan dibagikan. Sehingga akan membentuk opini bahwa Jawa Pos lebih cepat meliput berita dan lebih cepat mengetahui berita dibandingkan koran lain. Persoalan kebiasaan membaca koran di sore hari itu pelan-pelan dapat di rubah di pagi hari. Tentunya orang akan lebih senang jika lebih cepat mengetahui apa yang terjadi di masyarakat ketimbang yang terakhir tahu. 

Akhirnya Jawa Pos terbit di pagi hari. Awalnya masyarakat kaget ada koran yang terbit di pagi hari. Tetapi dengan sabar Dahlan dan timnya mengedukasi masyarakat untuk membaca koran di pagi hari. Dahlan membentuk opini bahwa lebih cepat mengetahui berita yang up to date itu lebih cerdas dan lebih keren. Untuk hal ini Dahlan Iskan bahkan terjun langsung dalam memasarkan koran Jawa Pos. 

Pelan-pelan Jawa Pos membiasakan masyarakat untuk membaca koran di pagi hari. Menerbitkan kkoran di pagi hari, Jawa Pos hampir tidak ada saingannya karena koran lain tetap terbit sore hari. Akhirnya dalam kurun waktu lima tahun yaitu 1982-1987 Jawa Pos berhasil terbit dengan oplah 126.000 eksemplar. Omset Jawa Pos naik 20 kali lipat dari omset ditahun pertama yaitu tahun 1982. Omset Jawa Pos mencapai 10,6 miliar. Dari surat kabar yang hampir gulung tikar, Dahlan Iskan menjadikan Jawa Pos menjadi surat kabar yang spektakuler dan Jawa Pos di bawah kepemimpinan Dahlan berhasil merubah kebiasaan masyarakat dari membaca koran di sore hari menjadi pagi hari. 
Melihat keberhasilan Jawa Pos, koran lain yang awalnya terbit sore juga ikut-ikutan terbit pagi karena takut kehilangan pasar. 

Di tahun 1993 saat usianya mencapai 42 tahun, Dahlan mengundurkan diri menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum Jawa Pos karena ia ingin memberikan kesempatan pada orang yang lebih muda untuk berkarya. 

Dahlan Iskan akhirnya fokus mengembangkan jaringan media Jawa Pos, yang awalnya hanya menerbitkan koran saja, Jawa Pos kemudian juga membuat majalah dan juga surat kabar daerah lain. Jaringan ini terkenal dengan nama Jawa Pos News Network (JPNN). JPNN adalah jaringan media terbesar di Indonesia saat ini dengan memimpin 190 surat kabar, tabloid dan majalah serta memiliki 40 percetakan yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Tahun 1997 Dahlan Iskan membangun gedung pencakar langit yang terkenal di Surabaya dengan nama Graha Pena. Gedung ini menjadi pusat aktivitas JPNN. Selain di Surabaya, Dahlan Iskan juga membangun gedung serupa di Jakarta mengingat Jakarta adalah ibukota Indonesia dan untuk lebih mengukuhkan keberadaan JPNN di tanah air. 

Dahlan juga melirik media elektronik dengan mendirikan stasiun TV lokal surabaya yaitu JTV dan SBO, Batam yaitu Batam TV, di Pekanbaru yaitu Riau TV, FMTV di Makassar, PTV di Palembang, dan Parahyangan TV di Bandung dan di kota-kota lainnya yang mencapai 34 stasiun televisi lokal. 

“Jangan meletakkan semua telur di keranjang yang sama”, begitulah pepatah bisnis. Dahlan Iskan juga mempercayai pepatah itu. Ia mendiversifikasikan usahanya ke bisnis real estate dan hotel. 
Selain itu Dahlan Iskan juga memiliki perusahaan yang berkaitan dengan listrik yaitu direktur pembangkit listrik swasta PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kelak mengapa Dahlan ditunjuk menjadi Direktur Utama PLN. 

Dahlan Iskan Cangkok Hati 
Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati pada tahun 2008. Buku ini berisi tentang pengalaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi transplantasi hati di Cina.

Mungkin banyak yang sudah tahu jika Pak Dahlan Iskan pernah terjangkit virus Hepatitis B. Sebenarnya Dahlan Iskan tidak menyadari jika ia sedang terkena penyakit hepatitis B, tahu-tahu muntah darah. Dahlan mengakui sebelum ini ia sering hidup seenaknya, waktu kecil ia sering minum air sungai mentah yang tak tahu bagaimana tingkat higienisitasnya, kemudian ia juga suka makan di satu wadah sama-sama. Saat bekerja pun ia sering lupa waktu untuk istirahat. Apalagi saudaranya yaitu ibu, paman dan kakak kandungnya yang meninggal di usia muda yaitu berumur 30-34 tahun juga mengalami gejala yang sama yaitu muntah darah. 

Berikut kronologisnya Dahlan Iskan sampai harus menjalani cangkok hati atau transplatasi hati yang dikutip dari wawancara Dahlan di Kick Andy. 
Bermula setelah melakukan perjalanan bisnis yang begitu panjang. Mulai dari China hingga Ambon, Dahlan Iskan mengalami muntah darah ketika tiba di rumahnya, Surabaya. Setelah melakukan pengecekan kepada seorang dokter, ternyata liver atau hatinya telah sirosis. Selain itu, hati yang telah rusak juga telah dipenuhi kanker. 

“Dokter bilang umur saya tinggal enam bulan. Paling lama dua tahun,” kata Pimpinan Jawa Pos Group ini. Dokter pun langsung menyarankan melakukan tindakan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, yaitu transplantasi. Tindakan ini jelas saja penuh risiko. Apalagi sebelumnya seorang tokoh, Nurcholish Madjid gagal setelah melakukan transplantasi. Cak Nur meningal dunia ketika dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura. 

Akhirnya dengan penuh pertimbangan, Dahlan Iskan memilih sebuah rumah sakit di Tianjin, China untuk melakukan transplantasi. Bersama tim kecil, yaitu Nafsiah Sabri, istrinya, Robert Lai, sahabatnya dan saudara angkatnya di China menunggu donor hati. Tim kecil ini tinggal di China sampai mendapat donor hati untuk di cangkokan ke dalam tubuh Dahlan Iskan selama enam bulan. 

Kisah Dahlan Iskan ini sangat menarik untuk diangkat di Kick Andy. Terutama bagaimana detik-detik menjelang operasi menunggu donor hati yang tak kunjung datang. Juga bagaimana perjuangan seorang sahabat Dahlan Iskan, Robert Lai yang begitu gigih menjaga, merawat dan membersihkan kamar perawatan. Salah satu kegagalan pasien transplantasi adalah pasca operasi. Hal ini juga diungkapkan Prof Sulaiman Phd, seorang ahli liver dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. “Transplantasinya sebenarnya tidak berbahaya. Tapi justru virus sesudah operasilah yang sangat mematikan.” ujar dokter yang pernah merawat almarhum Nurcholish Madjid ini. 

Dengan berhasilnya transplantasi hati Dahlan Iskan, ternyata tidak hanya melegakan keluarganya saja. Keluarga Nurcholish Madjid juga merasa bersyukur. Waktu itu banyak orang berpendapat, Cak Nur meninggal dunia karena dimurkai Allah makanya mukanya hitam. Ternyata yang terjadi tidaklah demikian. Orang yang menderita sirosis hati pasti mukanya hitam. Begitu juga Dahlan Iskan. Namun setelah transplantasi mukanya kembali bersinar. “ Kalau muka menjadi hitam, itu karena kotoran ikut beredar melalui aliran darah karena hati yang telah rusak,” kata Dahlan Iskan, yang mengaku berasal dari keluarga miskin. 

Kini Dahlan Iskan mempunyai dua “Mercy”. Satu Mercy adalah salah satu mobil Mercy seri 500 seharga Rp 3 miliar. Mercy yang lain adalah lambang mercy di perutnya, bekas operasi transplantasi hati yang harganya konon lebih dari harga mobil itu. 

Fangbian Iskan Corporindo (FIC) 
Pada awal tahun 2009, Dahlan Iskan juga menaruh 'telur investasinya' di bidang industri komunikasi. Beliau membangun Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang akan menghubungkan Surabaya - Indonesia dan Hong Kong dengan panjang serat optik mencapai 4.300 kilometer. Proyek ini di dalam naungan Fangbian Iskan Corporindo (FIC) dengan Dahlan Iskan yang menjadi Komisarisnya. 

Dahlan Menjadi Dirut PLN 
Kesuksesan Dahlan Iskan dalam mengembangkan Jawa Pos Group sangat terkenal dimana-mana. Setiap saat media cetak dan elektronik meliput keberhasilan raja media asal Jawa Timur ini sampai-sampai Presiden SBY pun tahu kecemerlangan Dahlan Iskan dalam memimpin JPNN. Waktu itu di Jakarta sedang musimnya mati lampu. Banyak masyarakat yang mengeluh alat elektroniknya rusak gara-gara byar-pet ini. Fahmi Mochtar yang menjadi Dirut PLN saat itu banyak menuai kritikan. Akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan keputusan untuk mengangkat Dahlan Iskan menjadi Dirut PLN menggantikan Fahmi Mochtar. 
Banyak pihak yang tidak setuju dan meragukan hal itu. Bahkan tak segan pihak yang kontra mencibir dengan mengatakan “ Mana mungkin Dahlan Iskan yang hanya lulusan SLTA dan tidak lulus kuliah bisa memimpin PLN. Jangan samakan PLN dengan Jawa Pos.” Menanggapi hal itu Dahlan Iskan dengan santainya menjawab “PLN ini tempat berkumpul orang-orang hebat, karyawan lulusan SMA jurusan terhebat, Fisika, jurusan yang dianggap paling pintar. Lalu, masuk fakultas teknik elektro ITB, yang juga terhebat. Lulus ITB, diseleksi lagi masuk PLN oleh senior-senior yang hebat. Tidak diragukan lagi, PLN adalah kumpulan orang-orang terhebat dan terpintar di negeri ini” “ Ya. Yang dibutuhkan sekarang adalah manusia bodoh seperti saya”. 
Hari pertama Dahlan bekerja di PLN, ia langsung membuat gebrakan antara lain : 
  • Bebas byar-pet se Indonesia dalam waktu enam bulan 
  • Gerakan sehari sejuta sambungan 
  • Pencabutan capping yaitu batas tarif listrik industri, sehingga lebih adil dan dapat menumbuhkan iklim investasi di Indonesia. 
Selain program diatas. Dahlan Iskan juga membangun sejumlah besar proyek untuk PLN seperti membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Di tahun sebelum kepemimpinan Dahlan, PLN hanya berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan. 

Fakta unik Dahlan Iskan saat menjadi Dirut atau CEO PLN adalah sebagai berikut : 
  • Setiap tanggal 17 di setiap bulan yang biasanya diisi upacara, diganti dengan diskusi antar karyawan dan atasan. 
  • Dahlan Iskan juga membuat “CEO Note” sering juga disebut CEO Note Dahlan Iskan yaitu catatan yang dapat menjembatani atasan dan bawahan. CEO Note Dahlan Iskan ini selalu diakhiri dengan kata-kata motivasi untuk lebih maju dan sukses. 
  • Dahlan Iskan lebih memilih mengendarai mobil pribadinya sendiri daripada memakai mobil dinas. 
  • Dahlan Iskan tidak mengambil gajinya sebagai CEO PLN dan tidak menempati rumah dinas. 
Benar saja, dibawah kepemimpinan Dahlan Iskan yang full visi dan memiliki etos kerja yang tinggi, PLN memiliki banyak kemajuan. Seperti tidak byar-pet lagi dan pelayanannya lebih profesional. 
Dahlan Iskan menjabat menjadi Direktur Utama PLN hanya dua tahun karena pada tanggal 19 Oktober 2011, Presiden SBY menunjuk Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN menggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit. 
Sebenarnya Dahlan sangat berat meninggalkan PLN, karena banyak programnya yang belum rampung dan visi yang ia bangun untuk mereformasi PLN masih sedikit yang terwujud mengingat masa jabatannya yang masih seumur jagung 2 tahun. Namun apa dikata, ternyata kemampuannya dalam memimpin dianggap lebih tinggi dari pada hanya memimpin PLN. 

Mobil Listrik Dahlan Iskan 
Setelah lolos dari maut karena penyakit sirosis-nya, Dahlan Iskan seakan menemukan hidupnya yang baru. Beliau jadi benar-benar menghargai waktu ekstra yang diberikan Alloh kepadanya. Apa yang beliau kerjakan sepenuhnya didedikasikan untuk kebaikan banyak orang. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya.” Itulah prinsip Dahlan Iskan. Saat ia menjadi Dirut PLN, ia berprestasi sebaik-baiknya. Begitu pula saat menjadi Menteri BUMN, Dahlan ingin mengabdi dengan sebaik-baiknya. Salah satu bentuk pengabdiannya pada negeri Indonesia dan bentuk pengabdiannya pada masyarakat adalah dengan memfasilitasi dan mendukung produksi mobil nasional. Dahlan Iskan memang bukan orang pertama yang mendukung mobil nasional, sebelum nya ada Jokowi dengan mobil SMK dan saat era Soeharto juga ada Timor mobil. 

Dahlan berpendapat bahwa Indonesia adalah negara besar dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa, sayang sekali jika hanya menjadi konsumen termasuk mobil. Tetapi jika Indonesia ngotot memproduksi mobil bensin maka pasti Indonesia sudah kalah pasar dengan Jepang dan Korea. Akhirnya dipilihlah mobil listrik yang belum seramai mobil bensin. Mobil listrik dipilih sebagai mobil yang akan didukung Dahlan Iskan sebagai mobil nasional karena pesaingnya belum ketat, ramah lingkungan dan jika diproduksi secara masal (apalagi produksinya di Indonesia) akan lebih murah harganya dari mobil bensin yang harus impor. 
Mobil listrik Dahlan yang pertama adalah Tuxuci. Tuxuci adalah sejenis mobil sport. Tuxuci ini dibuat oleh Danet Suryatama adalah salah satu Diaspora Indonesia (orang Indonesia yang tinggal di luar negeri tapi telah kembali alias ‘pulang kampung’) yang pernah berkarir dibidang otomotif dan sangat cemerlang dibawah bendera Chrysler dan Mitsubishi. Tim yang membuat mobil listrik ini dinamai “Putra Petir”. 

Tuxuci bisa menempuh jarak 400km atau 4 jam dengan baterai terisi penuh, untuk mengisi baterai sampai penuh butuh waktu 6 jam. Tuxuci memiliki kecepatan maximum 193km/jam dan jarak jelajah 200 mil atau 321,8km untuk sekali charge. Tuxuci dibandrol dengan harga 3 miliar. 

Namun sayang saat uji coba dari Solo menuju Surabaya,, Tuxuci mengalami rem blong dan menabrak tebing di Magetan. Body Tuxuci mengalami rusak parah dan untungnya Dahlan Iskan yang mengemudikannya selamat dan tak terluka sedikit pun. 

Walau begitu Dahlan Iskan tak patah semangat. Ia tetap melanjutkan proyek mobil listriknya. Bersama dengan “Putra Petir” yaitu komunitas yang membantu Dahlan membuat mobil listrik, Dahlan Iskan membuat mobil listrik kedua yang bernama “Selo” yang dalam bahasa Jawa berarti batu. Mobil kedua ini masih berupa mobil sport. Bedanya “Selo” tidak memakai gearbox agar lebih hemat beda dengan Tuxuci yang memakai gearbox. Jika mobil Tuxuci dirancang oleh Danet Suryatama maka mobil kedua dirancang oleh Ricky Elson. “Selo” ditawarkan dengan harga 1,5 miliar namun bisa menjadi 300 jutaan jika diproduksi massal. 

Dahlan Menjadi Menteri BUMN 
Lulusan Pesantren Memimpin BUMN. 
Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN.

Saat diangkat menjadi Menteri BUMN, ada satu pertanyaan yang dialamatkan ke Dahlan, kurang lebih pertanyaannya seperti ini “BUMN adalah lembaga yang sering menjadi sasaran empuk korupsi, bagaimana menurut anda?” Menanggapi pertanyaan seperti itu, Dahlan tersenyum sambil menjawab “ Menurut pengamatan saya, di lembaga ini ada 10% orang yang jujur dan ada 10% orang yang tidak jujur. Sedangkan yang 80% berada di tengah-tengahnya, tergantung yang memimpin. Jika yang memimpin termasuk orang yang jujur maka yang 80% tadi ikut yang jujur sehingga yang jujur menjadi 90%. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur maka yang 80% juga ikut yang tidak jujur sehingga yang tidak jujur juga menjadi 90%. Jadi kembali lagi ke pemimpinnya”. 
Dahlan menetapkan 3 misi BUMN: Pertama, BUMN harus bisa dipakai sebagai alat ketahanan nasional. Industri strategis masuk kelompok ini, demikian juga BUMN pangan. Kedua, BUMN harus bisa berfungsi sebagai engine of growth. Mesin pertumbuhan ekonomi. Proyek-proyek penting yang akan bisa menggerakkan ekonomi secara nyata harus dimasuki BUMN. Ketiga, BUMN harus bisa dipergunakan untuk menumbuhkan kebanggaan nasional. Pride of Nation. Sejumlah BUMN tidak boleh hanya bisa menjadi jago kandang. Harus menjadi kebanggaan bangsa di dunia internasional. 

Dahlan Iskan melakukan beberapa gerakan. Salah satunya adalah membersihkan BUMN dari korupsi. Langkah awalnya adalah dengan memberi kriteria khusus dalam mengangkat CEO di perusahaan BUMN. Salah satu kriterianya adalah memiliki integritas yang tinggi. Syarat yang lain adalah memiliki antusias untuk maju. 

Dahlan melaksanakan beberapa program yang akan dijalankan dalam pengelolaan BUMN. Program utama itu adalah restrukturisasi aset dan downsizing (penyusutan jumlah) sejumlah badan usaha. Ihwal restrukturisasi masih menunggu persetujuan Menteri Keuangan.

Dahlan tidak menyebut pandai sebagai syaratnya karena semua orang sudah pasti pandai. "Satu integritas yang baik, kenapa bukan kepintaran karena saya yakin semua orang sudah pintar, yang kedua adalah harus mempunyai antusias keinginan maju, banyak orang integritas tinggi tapi tidak punya antusias. Tapi ada juga antusias tidak integritas dia kaya kuda liar," jelas Dahlan. 

Beberapa kinerjanya disorot. Dahlan gagal membawa lima perusahaan BUMN untuk melepas saham perdana (initial public offering/IPO) di lantai bursa. Adapun, berkat kepemimpinannya, BUMN dinilai bersih dari korupsi oleh masyarakat juga merupakan kinerja dan keberhasilannya membangun BUMN.

“Alangkah hebatnya Indonesia kalau semua potensi bangsa disatukan dalam koordinasi yang utuh. Kalau saja ada kesatuan di dalamnya, kita bisa memproduksi pabrik apa pun, alat apa pun, dan kendaraan apa pun. Pembangkit listrik, pabrik gula, pabrik kelapa sawit, pesawat, kapal, kereta, motor, mobil, dan apalagi sepeda, semua bisa dibuat di dalam negeri” Ujar Dahlan. 

Visi itu satu persatu berhasil diwujudkannya dalam waktu singkat. Industri pertahanan negara bangkit, pembangunan infrastruktur memanfaatkan kekuatan BUMN begitu cepat, BUMN pertanian dan perkebunan bergerak bahu membahu mewujudkan ketahanan pangan nasional. Mimpinya membentuk BUMN-BUMN yang kuat yang mampu bersaing dalam pasar global terwujud ketika Pertamina masuk dalam Fortune 500. Garuda Indonesia mengalahkan MAS dan menjadi maskapai kelas ekonomi terbaik dunia. Semen Indonesia mengakusisi pabrik semen di Vietnam dan menjadi Pabrik Semen terbesar di ASEAN. BUMN-BUMN Karya melakukan ekspansi ke Afrika dan Jazirah Arab. Banyak prestasil lain BUMN di bawah Dahlan Iskan yang menumbuhkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. 
Kerja.Kerja. Kerja. Demi Indonesia 


sumber: 
http://www.dahlaniskan.net/biografi/ 
http://id.wikipedia.org/wiki/Dahlan_Iskan 
http://biografi-orang-sukses-dunia.blogspot.com/2013/06/biografi-dahlan-iskan-orang-miskin-yang.html
Profil Entrepreneur
Dr. (HC) Ir. Ciputra


Ir. Ciputra (lahir di Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931; adalah seorang insinyur dan pengusaha di Indonesia. Ia terkenal sebagai pengusaha properti yang sukses, antara lain pada Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. 
Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang filantropis, dan berkiprah di bidang pendidikan dengan mengembangkan sekolah dan Universitas Ciputra. 
Pada 2011, Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, Ir. Ciputra menduduki peringkat ke-27 dengan total kekayaan US$ 950 juta. Ciputra, yang memiliki nama lahir Tjie Tjin Hoan, menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Parigi, Sulawesi Tengah. Sejak kecil Ciputra sudah merasakan kesulitan dan kepahitan hidup. Bapaknya Tjie Siem Poe ditangkap oleh pasukan tak dikenal, karena dituduh sebagai mata-mata Belanda/Jepang dan tidak pernah kembali lagi pada tahun 1944.  

Ketika remaja ia bersekolah di SMP dan SMA Frater Don Bosco di Manado. Setamatnya dari SMA, ia meninggalkan desanya menuju Jawa. Ia kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung. Pada tingkat empat, ia bersama dua temannya mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan yang berkantor di sebuah garasi. Bersama Ismail Sofyan dan Budi Brasali, teman kuliahnya, sekitar tahun 1957 Ciputra mendirikan PT Daya Cipta. Biro arsitek milik ketiga mahasiswa tersebut, sudah memperoleh kontrak pekerjaan lumayan untuk masa itu, dibandingkan perusahaan sejenis lainnya. Proyek yang mereka tangani antara lain gedung bertingkat sebuah bank di Banda Aceh.

Tahun 1960 Ciputra lulus dari ITB. Ke Jakarta…Kita harus ke Jakarta, sebab di sana banyak pekerjaan, ujarnya kepada Islamil Sofyan dan Budi Brasali. Keputusan ini menjadi tonggak sejarah yang menentukan jalan hidup Ciputra dan kedua rekannya itu. Dengan bendera PT Perentjaja Djaja (PD), proyek bergengsi yang ditembak Ciputra adalah pembangunan pusat berbelanjaan di kawasan senen. Dengan berbagai cara, Ciputra adalah berusaha menemui Gubernur Jakarta ketika itu, Dr. R. Soemarno, untuk menawarkan proposalnya. Gayung bersambut. Pertemuan dengan Soemarno kemudian ditindak lanjuti dengan mendirikan PT Pembangunan Jaya, setelah terlebih dahulu dirapatkan dengan Presiden Soekarno.

Ciputra mengawali kariernya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemda DKI. Ciputra bekerja di Jaya Group sebagai direksi sampai dengan usia 65 tahun, dan setelah itu sebagai penasihat. Di perusahaan tersebut, Ciputra diberi kebebasan untuk berinovasi, termasuk di antaranya dalam pembangunan proyek Ancol. Kemudian bersama dengan Sudono Salim (Liem Soe Liong), Sudwikatmono, Budi Brasali dan Ibrahim Risjad, Ciputra mendirikan Metropolitan Group, yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. Pada masa itu, Ciputra duduk sebagai direktur utama di Jaya Group dan di Metropolitan Group sebagai presiden komisaris. 
Akhirnya Ciputra mendirikan grup perusahaan keluarga, Ciputra Group. Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Selain itu, Bank Ciputra yang didirikannya ditutup oleh Pemerintah karena dianggap tidak layak, dan Asuransi Jiwa Ciputra Allstate yang baru dirintis menjelang krisis pun ikut ditutup. 
Dengan adanya kebijakan moneter dari pemerintah dan diskon bunga dari beberapa bank, ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya ketiga group tersebut dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri.
Pada usianya yang ke-75, ia memilih untuk mengembangkan bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan Universitas Ciputra. Sekolah ini menitik-beratkan pada kewirausahaan. Dengan sekolah ini, Ciputra bertujuan untuk menyiapkan para lulusannya menjadi pengusaha. Ciputra saat ini dikenal sebagai sosok penyebar entrepreneurship / kewirausahaan di Indonesia. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menanamkan pentingnya kewirausahaan untuk membuat bangsa Indonesia maju. Kiprah Ciputra diapresiasi oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan memberikan dua rekor kepada Ciputra, yakni sebagai wirausahawan peraih penghargaan terbanyak di berbagai bidang dan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan kepada dosen terbanyak. 
Ciputra melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) telah memberikan pelatihan entrepreneurship kepada setidaknya 1.600 dosen. Ciputra juga dinobatkan sebagai Entrepreneur of The Year 2007 versi Ernst & Young.

Karya-karya besar Ciputra begitu beragam, karena hampir semua subsektor properti dijamahnya. Ia kini mengendalikan 5 kelompok usaha Jaya, Metropolitan, Pondok Indah, Bumi Serpong Damai, dan Ciputra Development yang masing-masing memiliki bisnis inti di sektor properti. Proyek kota barunya kini berjumlah 11 buah tersebar di Jabotabek, Surabaya, dan di Vietnam dengan luas lahan mencakup 20.000 hektar lebih.
Ke-11 kota baru itu adalah Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Kota Taman Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citra Indah, Kota Taman Metropolitan, CitraRaya Surabaya, Kota Baru Sidoarjo, dan Citra Westlake City di Hanoi, Vietnam. Proyek-proyek properti komersialnya, juga sangat berkelas dan menjadi trend setter di bidangnya. Lebih dari itu, proyek-proyeknya juga menjadi magnit bagi pertumbuhan wilayah di sekitarnya. 

Setelah pusat perbelanjaan Senen, proyek monumental Ciputra di Jaya selanjutnya adalah Taman Impian Jaya Ancol dan Bintaro Jaya. Melalui perusahaan yang 40% sahamnya dimiliki Pemda DKI inilah Ciputra menunjukkan kelasnya sebagai entrepreuneur sekaligus profesional yang handal dalam menghimpun sumber daya yang ada menjadi kekuatan bisnis raksasa. Grup Jaya yang didirikan tahun 1961 dengan modal Rp. 10 juta, kini memiliki total aset sekitar Rp. 5 trilyun. 
Dengan didukung kemampuan lobinya, Ciputra secara bertahap juga mengembangkan usahanya. Jumlah seluruh anak usaha dari Kelima grup itu tentu di atas seratus, karena anak usaha Grup Jaya saja 47 dan anak usaha Grup Metropolitan mencapai 54. 
Mengenai hal ini, secara berkelakar Ciputra mengatakan: Kalau anak kita sepuluh, kita masih bisa mengingat namanya masing-masing. Tapi kalau lebih dari itu, bahkan jumlahnya pun susah diingat lagi. 
Fasilitas merupakan unsur ketiga dari 10 faktor yang menentukan kepuasan pelanggan. Konsumen harus dipuaskan dengan pengadaan fasilitas umum dan fasilitas sosial selengkapnya. Tapi fasilitas itu tidak harus dibangun sekaligus pada tahap awal pengembangan. Jika fasilitas selengkapnya langsung dibangun, harga jual akan langsung tinggi. Ini tidak akan memberikan keuntungan kepada para pembeli pertama, selain juga merupakan resiko besar bagi pengembang. Ciputra memiliki saham di lima kelompok usaha (Grup Jaya, Grup Metropolitan, Grup Pondoh Indah, Grup Bumi Serpong Damai, dan Grup Ciputra). Dari Kelima kelompok usaha itu, Ciputra tidak menutupi bahwa sebenarnya ia meletakkan loyalitasnya yang pertama kepada Jaya. 
Pertama, karena ia hampir identik dengan Jaya. Dari sinilah jaringan bisnis propertinya dimulai. Sejak perusahaan itu dibentuk tahun 1961, Ciputra duduk dalam jajaran direksinya selama 35 tahun: 3 tahun pertama sebagai direktur dan 32 tahun sebagai direktur utama, hingga ia mengundurkan diri pada tahun 1996 lalu dan menjadi komisaris aktif. 
Kedua, adalah kenyataan bahwa setelah Pemda DKI, Ciputra adalah pemegang saham terbesar di Jaya. PT Metropolitan Development adalah perusahaannya yang ia bentuk tahun 1970 bersama Ismail Sofyan, Budi Brasali, dan beberapa mitra lainnya. 
Kelompok usaha Ciputra ketiga adalah Grup Pondok Indah (PT Metropolitan Kencana) yang merupakan usaha patungan antara PT Metropolitan Development dan PT Waringin Kencana milik Sudwikatmono dan Sudono Salim. Grup ini antara lain mengembangkan Perumahan Pondok Indah dan Pantai Indah Kapuk. 
Kelompok usaha yang keempat adalah PT Bumi Serpong Damai, yang didirikan awal tahun 1980-an. Perusahaan ini merupakan konsorsium 10 pengusaha terkemuka – antara lain Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaya, Sudwikatmono, Ciputra dan Grup Jaya – yang mengembangkan proyek Kota Mandiri Bumi Serpong Damai seluas 6.000 hektar, proyek jalan tol BSD – Bintaro Pondok Indah, dan lapangan golf Damai Indah Golf. 
Grup Ciputra adalah kelompok usahanya yang Kelima. Grup usaha ini berawal dari PT Citra Habitat Indonesia, yang pada awal tahun 1990 diakui sisi seluruh sahamnya dan namanya diubah menjadi Ciputra Development (CD). Ciputra menjadi dirutnya dan keenam jajaran direksinya diisi oleh anak dan menantu Ciputra. Pertumbuhan Ciputra Development belakangan terasa menonjol dibandingkan keempat kelompok usaha Ciputra lainnya. Dengan usia paling muda, CD justru yang pertama go public di pasar modal pada Maret 1994. Baru beberapa bulan kemudian Jaya Real properti menyusul. 
Total aktiva CD pada Desember 1996 lalu berkisar Rp. 2,85 triliun, dengan laba pada tahun yang sama mencapai Rp. 131,44 miliar. 
CD kini memiliki 4 proyek skala luas: Perumahan Citra 455 Ha, Citraraya Kota Nuansa Seni di Tangerang seluas 1.000 Ha, Citraraya Surabaya 1.000 Ha, dan Citra Indah Jonggol. 1.000 Ha. Belum lagi proyek-proyek hotel dan mal yang dikembangkannya, seperti Hotel dan Mal Ciputra, serta super blok seluas 14,5 hektar di Kuningan Jakarta. Grup Ciputra juga mengembangkan Citra Westlake City seluas 400 hektar di Ho Chi Minh City, Vietnam. Pembangunannya diproyeksikan selama 30 tahun dengan total investasi US$2,5 miliar. 
Selain itu, CD juga menerjuni bisnis keuangan melalui Bank Ciputra, dan bisnis broker melalui waralaba Century 21. 
Sejak beberapa tahun lalu, Ciputra menyatakan Kelima grup usahanya – terutama untuk proyek-proyek propertinya – ke dalam sebuah aliansi pemasaran. Aliansi itu semula diberi nama Sang Pelopor, tapi kini telah diubah menjadi si Pengembang. “Nama Sang Pelopor terkesan arogan dan berorientasi kepada kepentingan sendiri,” ujar Ciputra tentang perubahan nama itu.



sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Ciputrahttp://info-biografi.blogspot.com/2010/03/biografi-ir-ciputra.html#zgITWkAMcUJ5Izgx.99
Profil Entrepreneur
Sandiaga Salahudin Uno

work hard, work smart, work completely, work sincerely
kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas

Sandiaga Salahuddin Uno lahir di kota Pekanbaru, Riau pada tanggal 28 Juni 1969. Sandiaga merupakan salah satu pendiri Saratoga Capital, sebuah perusahaan investasi yang didirikan bersama Edwin Soeryadjaya pada tahun 1998. Saratoga Capital berkonsentrasi dalam bidang sumber daya alam dan infrastuktur. Saat ini ia menjabat sebagai CEO Saratoga Capital dan juga pimpinan di beberapa perusahaan antara lain PT. Adaro Energy Tbk, salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, PT. Tower Bersama Infrastruktur Group Tbk., perusahaan penyedia menara telekomunikasi. Ia juga salah satu pendiri PT. Recapital Advisors, sebuah perusahaan pengelola aset yang didirikan pada tahun 1997 bersama teman sekolahnya, Rosan Roeslani.

Saat ini Sandiaga menjabat sebagai anggota KEN (Komite Ekonomi Nasional) dan bendahara ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Pendiri AKSI (Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia). Sandiaga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) periode 2005-2008. Sejak 2004 sampai September 2010 ia aktif di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), terakhir sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi.

Sandiaga mendapat gelar Bachelor of Business Administration dengan predikat summa cum laude dari Wichita State University pada tahun 1990. Pada tahun 1992, Sandiaga berhasil meraih gelar Masters of Business Administration dari George Washington University. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.

Pada tahun 2008, Sandiaga menerima penghargaan sebagai ‘Indonesian Entrepreneur of The Year’ dari Enterprise Asia. Sandiaga juga tercatat sebagai Fellow dan delegasi dari organisasi Asia 21 2008.

Sandiaga Salahudin Uno atau sering dipanggil Sandi Uno. sering hadir di acara seminar-seminar, Sandi Uno yang berdarah Gorontalo ini kerap memberikan pembekalan tentang jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), utamanya pada pemuda.

Sandi mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Kemudian, pada tahun 1993 ia bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus di MP Holding Limited Group (mulai 1994). Pada 1995 ia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd. dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan. Namun, krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Sandi pun tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanya tersebut. Ia pulang ke Indonesia dengan predikat pengangguran. Meskipun demikian, karena kejadian tersebut, Sandi Uno kemudian mengubah cara pandangnya dan berbalik arah menjadi pengusaha. 

Pada tahun 1997 Sandi Uno mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Salah satu mentor bisnisnya adalah William Soeryadjaya. Kemudian, pada 1998 ia dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usahanya meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Berbekal jejaring (network) yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi Uno sukses menjalankan bisnis tersebut. Mekanisme kinerja perusahaan tersebut adalah menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan. Kinerja perusahaan yang krisis itu kemudian dibenahi dan dikembangkan. Setelah kembali sehat, aset perusahaan tersebut dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi.
Hingga 2009, ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih oleh PT Saratoga. Beberapa perusahaan pun telah dijual kembali , antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics.

Pada 2005-2008, Sandi Uno menjadi ketua umum Himpunan pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Ia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004.

Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS, Pada 2007. Sementara, pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS. Pada 2009 Sand masuk sebagai pendatang baru dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Majalah tersebut menuliskan Sandi memiliki kekayaan US$ 400 juta dan berada di peringkat 29.

Saat ini, Sandi Uno juga menjadi jajaran direksi beberapa perusahaan.

  • PT Adaro Indonesia
  • PT Indonesia Bulk Terminal
  • PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia
  • Interra Resources Limited
  • PT. iFORTE SOLUSI INFOTEK

Pada bulan Mei 2011 lalu, ia memutuskan membeli 51% saham Mandala Airlines. Sandi Uno meyakini bahwa keberanian dan optimisme dalam memandang masa depan menjadi kunci pembuka jalan untuk meraih kesuksesan. Selain itu, bangunan jejaring juga harus menjadi perhatian. Meskipun demikian, jejaring relasi hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan. Unsur kesuksesan, menurutnya, selebihnya bersumber dari kerja keras dan menjaga kepercayaan. Sandi Uno menganggap bahwa hidup harus memiliki target. Tanpa target, pencapaian yang ingin diraih akan sulit terwujud.

Menurut Sandi Uno, kegagalan dan kesalahan merupakan keniscayaan dalam berusaha. Tapi ia optimis bahwa kegigihan dalam upaya untuk terus berani mencoba adalah kunci menuju kesuksesan. Apabila terus selalu mencoba untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan (trial and error), maka hal itu akan mengantarkan seseorang pada puncak kesuksesan.

Sandi Uno menyatakan bahwa salah satu strategi penting dalam meraih keberhasilan adalah mencari tahu dan mempelajari apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah berhasil meraih kesuksesan. Kuncinya adalah belajar dari pengalaman mereka sampai mampu meraih kesuksesan seperti mereka.

Menurut Sandi Uno, untuk meraih kesuksesan tersebut sesorang harus memiliki kompetensi, kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Untuk mendapatkannya seseorang senantiasa harus memiliki karakter dan komitmen yang kuat, integritas yang tinggi, tekun, bekerja keras, dan disiplin. Sandi Uno menegaskan bahwa perlu adanya inovasi tiada henti dengan selalu tanggap terhadap perubahan dan terus menerus berusaha menuju perubahan yang lebih baik lagi. Menurutnya, akan lebih bagus lagi apabila seseorang berusaha untuk bisa menjadi seorang role model yang bisa memberikan contoh yang baik dan inspirasi bagi orang lain di sekitarnya.

Kewirausahaan, menurut Sandi Uno, adalah sebuah pola pikir. Kewirausahaan seperti menjadi sebuah ide yang menyebar luas terutama di kalangan anak muda. Sandi Uno melihat bahwa anak muda memiliki sikap dinamis dan penuh gairah atau semangat. Dinamisme dan semangat itu pada gilirannya akan membuat masa depan dunia wirausaha di kalangan pemuda menjadi lebih cerah. Menurutnya, kombinasi antara kerja keras (working hard), kerja cerdas (working smart) dan serta bermain sungguh-sungguh (playing hard) semakin bergeser dari tren musiman menjadi gaya hidup. Bagi Sandi, kalau keadaan ini terus berlangsung bahkan terus ditingkatkan, dapat dipastikan bahwa prospek bisnis dan perekonomian Indonesia juga makin cerah.

Namun, menurut Sandi Uno, masih ada kesalah-pahaman mengenai konsep kewirausahan itu sendiri. Pertama, kebanyakan pemuda masih menganggap bahwa kewirausahaan adalah sesuatu yang mudah. Menurutnya, kewirausahan bukan selalu berarti harus meninggalkan sebuah pekerjaan dan membuka kerja sendiri. Meskipun menjadi seorang pekerja (karyawan), seseorang masih bisa memiliki jiwa wirausaha. Bagi Sandi Uno, wirausaha adalah sebuah pola pikir yang terus menghasilkan kreativitas dan inovasi. Kewirausahaan memang memiliki visi yang baik, tapi tidak tergantung pada tempat kerja. Jadi seorang wirausahawan tidak terbatas hanya pada lokasi atau status dan posisi di tempat kerjanya.

Kedua, beberapa contoh wirausahawan memang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Seharusnya, menurut Sandi Uno, sudut pandang diarahkan kepada kesuksesan mereka dalam mengembangkan usahanya dan bukan pada latar belakang pendidikan para orang sukses tersebut. Kewirausahaan mengharuskan adanya kebijaksanaan, bukan intuisi yang buta. Menurutnya, kewirausahaan bukan bertujuan untuk menjadikan orang kaya, tetapi menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik. Terakhir, kewirausahan adalah bukan untuk diri sendiri. Kewirausahan adalah tentang kerjasama dengan orang lain. Kewirausahaan juga berbicara tentang bagaimana memberikan manfaat bagi orang lain.

Bagi Sandi Uno, kewirausahaan bertentangan dengan konsep keberuntungan. Sandi Uno menyatakan bahwa orang yang bergantung pada keberuntungn akan selalu menanti keberuntungan itu datang. Sementara, menanti hanya akan membuat seseorang menjadi miskin.

Menurutnya, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai pelaku mayoritas ekonomi Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi negara. UMKM seharusnya diperhatikan secara lebih serius. Bagi Sandi Uno, kendala pada UMKM akan sangat mengganggu perekonomian bangsa ini.

Dalam hal pengelolaannya, menurut Sandi Uno, ada tiga masalah besar yang dihadapi pelaku UMKM saat ini, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM), akses pasar, dan pendanaan. UMKM dibiarkan tumbuh sendiri oleh pemerintah tanpa kebijakan yang berpihak. Namun, sektor tersebut terbukti mampu bertahan pada saat krisis dan menopang perekonomian negara selama lebih sepuluh tahun terakhir ini. Sandi Uno menyatakan bahwa sektor UMKM seharusnya ditegaskan kembali sebagai pilar penciptaan lapangan kerja. Selama ini, menurut Sandi Uno, jiwa kewirausahaan telah membuktikan bahwa UMKM mampu bertahan dan mampu memekerjakan karyawan rata-rata 5-10 orang per unit usaha.

Pada Musyawarah Nasional (Munas) Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) yang berlangsung di Hotel Seruni, Bogor, Jawa Barat, 5-7 April 2013, ia terpilih sebagai ketua umum PRSI, menggantikan ketua yang lama, Hilmi Panigoro. Sebelumnya pada saat kepengurusan Hilmi Panigoro, Sandiaga Uno menjabat sebagai Wakil Ketua PRSI [11].

Sandiaga memiliki hobi bermain bola basket dan pernah menjadi Manajer untuk Tim Nasional Bola Basket Putri Indonesia pada SEA Games 2005 di Manila, Filipina. Sandiaga menikah dengan Nur Asia dan memiliki dua orang putri dan satu putra.

sumber dan referensi:
http://sandiaga-uno.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Sandiaga_Uno
Refleksi Pembelajaran Minggu Ke-2
Strategy to Grow

Setelah membahas mengenai Growth Mindset tentang bagaimana pentingnya Mindset untuk Bertumbuh, bagaimana menstimulasi Mindset untuk Bertumbuh, yang telah disampaikan oleh beberapa pemateri yang kompeten dibidangnya. Di minggu ke-2 ini dibahas bagaimana Stategi untuk Bertumbuh tersebut secara lebih mendalam, walaupun materi ini sedikit sudah dibahas di Minggu Ke-1.
Ada beberapa catatan yang dapat saya ambil dari materi-materi yang disampaikan, sesuai dengan pernyataan dimateri sebelumnya, bahwa untuk bertumbuh itu ada ilmunya, dan bukan hanya sekedar membesarkan usaha tanpa nilai-nilai yang lebih berarti, atau hanya sekedar mendapatkan profit.

Where is The Better Future
Dimana padang kurusetra usaha kita, demikian yang disampaikan oleh Bapak Sudhamek, dimana persisnya peperangan yang akan kita hadapi ketika membawa produk kita masuk ke pasar. Memang sudah jelas peperangan itu terjadi di pasar tetapi sebenarnya tantangan itu bukan hanya di pasar, tetapi mungkin di aspek-aspek usaha yang lainnya, yang terkadang luput dari perhatian kita. Dengan melihat dan mengenal tantangan usaha kita maka kita dapat memformulasi-kan strategi usaha kita untuk berkembang.

Menanamkan nilai-nilai terhadap usaha yang kita jalankan termasuk hal yang penting dari hanya sekedar mencari profit. Profit memang penting bagi sebuah bisnis, yang merupakan nutrisi untuk tumbuh dan berkembang, tetapi nutrisi ini sebaiknya diberikan dengan dosis yang tepat agar pertumbuhan bisnis itu dapat sustainable. Caranya dengan menanamkan nilai-nilai terhadap usaha. Saat ini banyak berkembang nilai-nilai di dunia bisnis seperti 3P (Profit, Planet, People) atau seperti yang dikembangkan oleh Bapak Sudhamek dalam usahanya sebuah filosofi Jawa yaitu Urip iku Urup...Atau nilai-nilai lainnya yang banyak berkembang pada kehidupan Orang Timur (Eastern Wisdom) yang pada dasarnya orang timur itu hidup tidak individualistis.

Dengan semangat nilai-nilai ini, kita dapat membuat jaringan yang sifatnya lebih mendalam dan mengikat, sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara pihak-pihak yang terkait didalam bisnis kita, bahwa semua yang terkait langsung atau-pun tidak langsung terhadap usaha kita, adalah saling membutuhkan dan saling menghidupi. Berbisnis juga bukan bersifat hit and run, pebisnis seperti ini sudah jelas bukan entrepreneur.

Setiap bisnis mempunyai tantangan-nya sendiri-sendiri, maka kenali-lah tantangan itu, identifikasi-kan, dan jangan lari dari tantangan tersebut, hadapi dan taklukkanlah. “If you know the enemy and know yourself, you need not fear the results of a hundred battles.” (Sun Tzu)
Tantangan dibidang dibidang consumer goods misalnya adalah distribusi dari ujung ke ujung. Usaha kelapa sawit pada land acquisition, usaha stainless steel pada bahan baku. Selain itu diperlukan juga kelihaian dalam melihat dan mencari peluang dengan pendekatan-pendekatan keilmuan (menggunakan business tools) apakah industri masih berkembang pesat, apakah kompetisi belum ketat, dan apakah profit pada industri itu bagus.

Never stop questioning: berfikir terus untuk menghasilkan sesuatu yang berfaedah untuk orang banyak.
Pada dasarnya bisnis itu tidak hanya menjual barang tetapi menjual nilai tambah (differensiasi) yang dinilai penting oleh konsumen. Nilai tambah yang tidak hanya dilihat dari Total Quality atau Total Cost saja.

Tantangan Dalam Membesarkan Usaha

Setelah kita menjalankan usaha atau bisnis, yang akhirnya produk kita diterima pasar dan permintaan sudah mulai banyak dan semakin banyak, perlu dilakukan sebuah strategi dalam mengembangkan usaha. Karena permintaan yang semakin banyak ini dapat saja menjadi bumerang kepada usaha kita, apabila kita biarkan tak tertangani. Hal ini tidak dapat kita kerjakan sendiri, karena keterbatasan-keterbatasan kita, mencoba untuk mencari partner yang baik adalah salah satu hal penting dilakukan untuk memenuhi permintaan tersebut. Sejalan dengan itu bisnis model usaha kita pun perlu diubah.

Seperti yang dilakukan oleh Bapak Sandiaga Uno, ketika awal usaha mereka hanya memberikan advis, tetapi ternyata mereka juga mendapat akses kepada investasi-investasi yang menarik, yang akhirnya mereka ikut berinvestasi dengan klien mereka tersebut...Inilah quantum leap yang mereka lakukan sehingga bisnis mereka semakin besar hingga saat ini. Yang awalnya 3 orang menjadi 10 orang kemudian menjadi 20 orang. Dari 20 orang menjadi 100 orang hingga akhirnya karyawan perusahaan mereka saat ini mencapi 5000 orang.
Ada tiga tantangan besar yang disampaikan oleh Bapak Sandiaga Uno, ketika kita ingin membesarkan usaha, yaitu:
  1. Akses ke Human Capital
    • Untuk memilih SDM yang cakap sangat diperlukan dalam mengembangkan usaha, dimana pendelegasian tugas dan tanggung jawab pekerjaan akan dapat berjalan dengan baik.
  2. Akses ke Market/Pasar
    • Market/Pasar akan mendorong kita untuk menjadi lebih besar, dengan naiknya permintaan pasar terhadap produk yang kita jual.
  3. Akses ke Modal/Capital
    • Kesulitan untuk akses kepada modal ini dapat ditutupi dengan kehandalan SDM dan pasar yang bagus. Modal akan mengejar kita dengan sendirinya.
Dan yang cukup penting juga adalah Mentorship, dengan mentorship ini kita dapat bertukar pikiran untuk mencari solusi atau terobosan-terobosan baru dalam mengembangkan usaha kita.

Dapatkan Trust Untuk Berkembang
Kunci Sukses : Dapat Dipercaya, demikian Bapak Dahlan Iskan menyampaikan tipsnya supaya bisnis kita berkembang. Dan ada satu lagi penyampaian beliau yang tidak kalah menggugah yaitu: calon pebisnis atau pengusaha yang menunggu modal uang terkumpul bukanlah entrepreneur.

Anjuran beliau jalankan usaha kita saat ini juga tanpa modal uang. Banyak calon pengusaha yang mundur dengan alasan modal ini, padahal banyak usaha yang dapat dijalankan tanpa harus mengeluarkan modal uang, hanya mengeluarkan modal karakter kita yaitu dapat dipercaya.
Sebagaimana ilustrasi beliau terhadap salah seorang kenalannya yang berjualan permen, yang dimulai dengan menjualkan dagangan permen orang lain hanya satu toples, yang akhirnya, dalam perjalanan dan perkembangan bisnis kenalan beliau tersebut mempunyai pabrik permen, dan bisnis-bisnis yang lainnya..seperti bisnis transportasi truk, berjualan gula, berjualan kopra, dan membuat pabrik minyak goreng...
Ketika satu pintu terbuka..dengan pengalaman kita dalam berusaha, ternyata diikuti dengan terbukanya pintu-pintu yang lainnya.
Hal ini juga pernah saya rasakan dan alami, sehingga saya berpendapat ketika kita menjual suatu produk, yang kita jual adalah diri kita sendiri. Ketika karakter yang kita jual adalah kebohongan maka produk yang kita jual juga akan penuh dengan kebohongan.



Business Lifecycle (Siklus Hidup Sebuah Bisnis)
Pak Nur Agustinus menyampaikan materi pembelajaran mengenai siklus hidup sebuah bisnis. Yang dengan materi ini kita dapat mengenali sudah sampai dimana posisi usaha yang kita jalankan. Disini Pak Nur menjelaskan bahwa: Siklus Hidup Usaha adalah dimulai pada fase Start Up, bisnis dimulai dari 0, dan akan memasuki pasar (time to market). Kemudian memasuki fase yang kedua yaitu Fase Introduction, dimana pada fase ini usaha sudah mulai dikenalkan kepada pasar. Setelah fase introduction ini, usaha semakin dikenal, semakin berkembang, mulai masuk kepada Fase Growth (Bertumbuh) dimana fase ini ditandai dengan usaha sudah mulai melewati titik impas dan mengalami keuntungan. Fase Growth ini juga ditandai dengan meningkatnya market share dengan sangat cepat. Keuntungan pada fase inilah yang dapat menjadikan usaha dapat bertumbuh. Setelah fase bertumbuh terlewati perusahaan akan masuk kepada Fase Maturity (Matang) ditandai dengan peningkatan market share yang sudah mulai sulit atau melambat, tetapi uang masuk (profit) banyak. Hal ini dikarenakan pelaku usaha ini sudah semakin ahli, sehingga dapat meminimalkan biaya produksi dari segala sisi (expert in economic of scale and scope).
Setelah fase maurity terlewati, perusahaan akan memasuki Fase Kemunduran, disini perlu kelihaian dari sang entrepreneur apakah akan melakukan inovasi atau terobosan baru atau tidak. Kalau sang entrepreneur melakukan inovasi dan terobosan baru maka perusahaan akan memasuki fase awal yang baru lagi, tetapi kalau tidak perusahaan akan dengan sendirinya mati.
Setiap fase-fase dari siklus hidup sebuah usaha diatas tentunya strateginya untuk bertahan berbeda-beda. Pada fase growth dimana perusahaan sudah mengalami keuntungan, profit tersebut harus dimanfaatkan secara bijaksana, lebih banyak kepada promosi untuk meningkatkan market share.
Ekspansi usaha lebih baik dilaksanakan pada Fase Maturity, dengan melakukan distribusi lebih luas misalnya dengan membuka cabang-cabang baru agar bisa mempertahankan dan atau meningkatkan profit usaha.







Aspek Pelanggan Dalam Mengembangkan Usaha

Pelanggan tidak dapat dilepaskan dari bisnis yang dijalankan. Pelanggan adalah pasar kita untuk mendapatkan profit, yang sangat dibutuhkan oleh bisnis yang kita jalankan untuk berkembang. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Sandiaga Uno, pelanggan/pasar akan mendorong kita untuk berkembang. Jadi pelanggan adalah esensi penting dalam mengembangkan usaha kita.

Selain sebagai sumber profit usaha, ternyata pelanggan dapat juga menjadi sumber inspirasi, informasi, dan inovasi dalam mengambangkan usaha sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Ciputra. Jadi masukan-masukan, saran, ide, ataupun keluhan pelanggan jangan dianggap sebagai hambatan dalam mengembangkan usaha kita. Yang saya alami saat ini, pelanggan saya akhirnya menjadi partner saya dalam mengembangkan usaha yang lain. Mengidentifikasi peluang dari pelanggan untuk bertumbuh demikian Bapak Antonius Tanan menyampaikan materinya.
Peluang dan pelanggan ini secara kreatif dapat kita kaitkan, seperti yang disampaikan oleh Bapak Antonius, peluang adalah pelanggan membawa uang datang berulang-ulang.

Untuk membuka peluang untuk bertumbuh ini, dapat dilakukan dengan membuka pasar yang baru dan atau membuat produk yang baru. Dengan membuka cabang-cabang ditempat lain misalnya. Hal ini memungkinkan terjadinya cross selling antara keduanya (Pasar Baru dan Produk Baru). Tentunya setiap perubahan yang kita lakukan dalam mengembangkan usaha kita pasti ada resikonya. Semua sisi dalam bisnis kita ini harus kita perhitungkan secara matang, tetapi jangan hanya berhitung kemudian tidak ada tindak lanjutnya. Keberanian mengambil resiko yang terukur adalah salah satu karakter penting seorang entrepreneur.


Demikian yang dapat saya sampaikan dalam jurnal refleksi minggu ke-2 ini. Insya Allah bermanfaat bagi saya pribadi dan rekan-rekan Onliners sekalian.








Kesimpulan Sederhana Saya

  • Jadikanlah bisnis yang anda jalankan tidak hanya mencari keuntungan semata tetapi tanamkanlah nilai-nilai didalamnya. Nilai-nilai ini dapat menjadi sumber inspirasi bisnis untuk berkembang, nilai-nilai yang nantinya dapat dianggap penting oleh pelanggan atau pasar usaha kita.
  • Mengembangkan usaha tidak lepas dari tantangan-tantangan dan resiko-resiko. Maka kenalilah ilmu untuk berkembang dari segala aspek yang mempengaruhi perkembangan usaha anda, seperti Sumber Daya Manusia, Pangsa Pasar, dan Permodalan. 
  • Dapatkanlah kepercayaan tidak hanya dari Angel Investor anda tetapi juga dari pelanggan anda. Pelanggan anda akan mendorong anda untuk berkembang jika anda dapat mengambil informasi, inspirasi, dan inovasi, untuk memperbaiki sistem usaha dan produk yang anda tawarkan ke pasar.
  • Bijaksana dalam mengelola cash flow usaha anda, dengan melihat siklus hidup sebuah usaha, anda akan tahu kapan anda berpromosi, membuka pasar baru dengan membuka cabang misalnya, ataupun mengembangkan produk baru. Ingat setiap perubahan dalam sistem usaha ataupun produk yang anda tawarkan mengandung resiko. Ukurlah resiko tersebut sesuai dengan kelayakan usaha kita. 

Bekasi, 26 Februari 2014

sumber:
Universitas Ciputra Entrepreneurship Online (UCEO) http://ciputra-uceo.com/

Sabtu, 22 Februari 2014

Membangun Growth Mindset


Setelah mengikuti pembelajaran di UCEO, Universitas Ciputra Entrepreneurship Online, Program T100 (Tumbuh 100x) yang merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya yaitu ECW (Entrepreneurship Ciputra Way) Batch 1 dan 2, banyak hal yang dapat saya ambil hikmahnya. Baik dari sisi inspirasi-inspirasi bisnis, dan juga pengetahuan dasar untuk membangun sebuah usaha dengan cara yang baik dan benar.

Pada Program T100 kali ini, saya menuliskan jurnal pribadi saya, yang merupakan refleksi terhadap apa yang telah saya dapatkan selama mengikuti program-program dari UCEO, baik yang sedang saya ikuti maupun yang telah dipelajari sebelumnya di ECW Batch 1 dan 2. Jurnal saya ini mungkin jauh dari sempurna, dan mungkin hanya sekedar catatan untuk diri saya sendiri, tetapi rekan-rekan pembaca saya harap dapat mengambil hal-hal yang penting, dan membuang apa yang dianggap kurang penting. Atau menambahkan catatan saya ini, agar lebih baik, dengan senang hati saya menerimanya.

Kepada Bapak Ciputra sebagai inisiator dari program UCEO ini saya ucapkan terima kasih, karena sangat jarang orang yang ingin berbagi kunci kesuksesannya, namun Bapak dengan senang hati membaginya kepada kami yang masih awan di dunia bisnis, dalam rangka untuk membangun Indonesia dengan karakter entrepreneurship disemua bidang, agar Indonesia dapat menjadi negara yang juara, negara yang bermartabat. Dengan banyaknya entrepreneur-entrepreneur di negara ini, perekonomian Indonesia pasti akan terangkat, dan akan disegani di percaturan bisnis internasional. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para instruktur, dan para pembicara di kelas online ini. Sangat inspiratif, tidak hanya karena mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan dibidang bisnis tetapi mereka juga telah sukses membangun bisnisnya.

Kepada rekan-rekan, mari tetap semangat dalam mewujudkan mimpi untuk menjadi seorang entrepreneur, seberapa pun usaha yang kita lakukan dalam mewujudkan mimpi itu, apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, anda pasti akan melihat perkembangannya. Dengan mimpi-mimpi kecil kita, mudah-mudahan dapat mewujudkan mimpi besar Bangsa Indonesia. Bangsa yang mandiri, bangsa yang dapat bersaing secara keilmuan dan ekonomi, bangsa yang juara disegala bidang. Insya Allah.

Kembali kepada refleksi pembelajaran minggu pertama di kelas T100 UCEO ini ada beberapa catatan yang dapat saya ambil diantaranya:

Mindset dan Growth Mindset
Mengapa mindset? Seperti ungkapan yang pernah saya dengar "Anda adalah apa yang anda pikirkan". Ungkapan ini sederhana tetapi mempunyai makna yang mendalam. Kalau kita adalah apa yang kita pikirkan, sudah sejauh mana kita memikirkan diri kita, memikirkan perkembangan mental kita, memikirkan perkembangan sosial dan ekonomi kita? Jangan-jangan kita tidak pernah memikirkannya. Padahal Tuhan YME telah memberikan otak kepada manusia begitu sempurna, baik dari sisi kemampuan otak untuk menyerap ilmu pengetahuan dan pengalaman, dan dari sisi kemampuan mengolah ilmu pengetahuan dan pengalaman itu menjadi sesuatu yang lebih berguna untuk kehidupan. Teknologi yang berkembang pesat saat ini tidak terlepas dari kemampuan otak-otak manusia untuk mengolah dan mengkonversi pengetahuan dan pengalaman mereka.

Jadi tidak salah apabila kita ingin membangun usaha, membangun bisnis, mindset sebagai seorang pengusaha, pebisnis, mindset entrepreneur harus dimiliki. Karena karakter dunia usaha yang berkembang dengan cepat ditambah dengan kemajuan teknologi yang demikian tinggi, apabila kita tidak mempersiapkan diri kita dengan mindset yang baik tentunya kita hanya akan jadi penonton, bukan jadi pelaku dunia bisnis tersebut.
Mindset seperti apa yang diperlukan? Tentunya mindset yang untuk terus berkembang, terus belajar, dan terus berkreasi. Mindset yang seperti "Mangkuk Terbuka" bukan mindset seperti "Mangkuk Tertutup".








Niat atau Kehendak Untuk Berkembang 
Untuk tumbuh dan berkembang tentunya harus benar-benar diniatkan. Apabila kita tidak meniatkan usaha yang kita jalankan akan berkembang, tentunya usaha itu tidak akan berkembang. Kalaupun berkembang bisa dipastikan arahnya pun tentu tidak akan jelas. Bagaimana untuk menumbuhkan niat untuk berkembang ini teorinya seperti yang disampaikan oleh Bapak Antonius Tanan.






Start Up vs Scale Up
All start is difficult (Bp. Sudhamek). Memang itulah yang saya rasakan ketika ingin memulai bisnis. Melangkah untuk pertama kali terasa sangat berat, memikirkan resiko-resiko yang akan dihadapi, masalah yang akan timbul, belum lagi masalah modal materi yang tidak ada. Tetapi ketika saya memulainya ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan, karena memang persiapan saya sudah saya lengkapi. Ketika sudah berjalan pun masalah muncul, tetapi bukan menjadi hal yang memberatkan karena sudah terbiasa dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul.

Antara start up dan scale up ada beberapa persamaan diantaranya:

  1. Mengidentifikasi peluang (produk apa yang akan dikembangkan, pasar mana yang akan dimasuki)
  2. Terus melakukan inovasi dan atau differensiasi.
  3. Mengelola resiko:  (Memulai usaha resiko tinggi, Mengembangkan usaha resiko tetap tinggi)
  4. Mengelola Penjualan (Sales Management) karena hal inilah yang mendatangkan uang/keuntungan menurut Bapak Sudhamek.
  5. Fokus (Jangan mimpi terlalu banyak menurut Bapak Dahlan Iskan)
  6. Bekerja Keras dan Sungguh - Sungguh 
  7. Konsisten dan Persistence 
  8. Sabar dan Pantang Menyerah.
Untuk mengembangkan usaha diperlukan ilmunya untuk berkembang seperti yang dikemukakan oleh Bapak Sandiaga Uno. Mengapa Entrepreneur harus berkembang agar dampaknya kepada masyarakat akan lebih besar. Usaha yang dijalankan tidak juga bisa tiba-tiba besar perlu dibarengi dengan cara yang baik.
Lakukanlah scale up dengan cara step by step dengan kesabaran dan kesungguhan. Menekuni apa yang telah dijalankan, dan berupaya untuk menemukan ide-ide baru, melakukan refleksi atas apa yang telah dijalankan. Ketika kita mulai refleksi terhadap apa yang telah dijalankan atau terhadap masalah-masalah yang dihadapi ternyata pintu-pintu berikutnya terbuka.

Mudah-mudahan dengan tulisan refleksi atas materi pembelajan T100 UCEO yang saya sampaikan ini rekan-rekan dan diri saya khususnya dapat melihat pintu-pintu tersebut terbuka, yang siap kita masuki dan berjuang dengan penuh semangat untuk membesarkan usaha kita. Insya Allah
Tetap Semangat...Salam Entrepreneur
Bekasi 22 Februari 2014