Rabu, 26 Februari 2014

Refleksi Pembelajaran Minggu Ke-2
Strategy to Grow

Setelah membahas mengenai Growth Mindset tentang bagaimana pentingnya Mindset untuk Bertumbuh, bagaimana menstimulasi Mindset untuk Bertumbuh, yang telah disampaikan oleh beberapa pemateri yang kompeten dibidangnya. Di minggu ke-2 ini dibahas bagaimana Stategi untuk Bertumbuh tersebut secara lebih mendalam, walaupun materi ini sedikit sudah dibahas di Minggu Ke-1.
Ada beberapa catatan yang dapat saya ambil dari materi-materi yang disampaikan, sesuai dengan pernyataan dimateri sebelumnya, bahwa untuk bertumbuh itu ada ilmunya, dan bukan hanya sekedar membesarkan usaha tanpa nilai-nilai yang lebih berarti, atau hanya sekedar mendapatkan profit.

Where is The Better Future
Dimana padang kurusetra usaha kita, demikian yang disampaikan oleh Bapak Sudhamek, dimana persisnya peperangan yang akan kita hadapi ketika membawa produk kita masuk ke pasar. Memang sudah jelas peperangan itu terjadi di pasar tetapi sebenarnya tantangan itu bukan hanya di pasar, tetapi mungkin di aspek-aspek usaha yang lainnya, yang terkadang luput dari perhatian kita. Dengan melihat dan mengenal tantangan usaha kita maka kita dapat memformulasi-kan strategi usaha kita untuk berkembang.

Menanamkan nilai-nilai terhadap usaha yang kita jalankan termasuk hal yang penting dari hanya sekedar mencari profit. Profit memang penting bagi sebuah bisnis, yang merupakan nutrisi untuk tumbuh dan berkembang, tetapi nutrisi ini sebaiknya diberikan dengan dosis yang tepat agar pertumbuhan bisnis itu dapat sustainable. Caranya dengan menanamkan nilai-nilai terhadap usaha. Saat ini banyak berkembang nilai-nilai di dunia bisnis seperti 3P (Profit, Planet, People) atau seperti yang dikembangkan oleh Bapak Sudhamek dalam usahanya sebuah filosofi Jawa yaitu Urip iku Urup...Atau nilai-nilai lainnya yang banyak berkembang pada kehidupan Orang Timur (Eastern Wisdom) yang pada dasarnya orang timur itu hidup tidak individualistis.

Dengan semangat nilai-nilai ini, kita dapat membuat jaringan yang sifatnya lebih mendalam dan mengikat, sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara pihak-pihak yang terkait didalam bisnis kita, bahwa semua yang terkait langsung atau-pun tidak langsung terhadap usaha kita, adalah saling membutuhkan dan saling menghidupi. Berbisnis juga bukan bersifat hit and run, pebisnis seperti ini sudah jelas bukan entrepreneur.

Setiap bisnis mempunyai tantangan-nya sendiri-sendiri, maka kenali-lah tantangan itu, identifikasi-kan, dan jangan lari dari tantangan tersebut, hadapi dan taklukkanlah. “If you know the enemy and know yourself, you need not fear the results of a hundred battles.” (Sun Tzu)
Tantangan dibidang dibidang consumer goods misalnya adalah distribusi dari ujung ke ujung. Usaha kelapa sawit pada land acquisition, usaha stainless steel pada bahan baku. Selain itu diperlukan juga kelihaian dalam melihat dan mencari peluang dengan pendekatan-pendekatan keilmuan (menggunakan business tools) apakah industri masih berkembang pesat, apakah kompetisi belum ketat, dan apakah profit pada industri itu bagus.

Never stop questioning: berfikir terus untuk menghasilkan sesuatu yang berfaedah untuk orang banyak.
Pada dasarnya bisnis itu tidak hanya menjual barang tetapi menjual nilai tambah (differensiasi) yang dinilai penting oleh konsumen. Nilai tambah yang tidak hanya dilihat dari Total Quality atau Total Cost saja.

Tantangan Dalam Membesarkan Usaha

Setelah kita menjalankan usaha atau bisnis, yang akhirnya produk kita diterima pasar dan permintaan sudah mulai banyak dan semakin banyak, perlu dilakukan sebuah strategi dalam mengembangkan usaha. Karena permintaan yang semakin banyak ini dapat saja menjadi bumerang kepada usaha kita, apabila kita biarkan tak tertangani. Hal ini tidak dapat kita kerjakan sendiri, karena keterbatasan-keterbatasan kita, mencoba untuk mencari partner yang baik adalah salah satu hal penting dilakukan untuk memenuhi permintaan tersebut. Sejalan dengan itu bisnis model usaha kita pun perlu diubah.

Seperti yang dilakukan oleh Bapak Sandiaga Uno, ketika awal usaha mereka hanya memberikan advis, tetapi ternyata mereka juga mendapat akses kepada investasi-investasi yang menarik, yang akhirnya mereka ikut berinvestasi dengan klien mereka tersebut...Inilah quantum leap yang mereka lakukan sehingga bisnis mereka semakin besar hingga saat ini. Yang awalnya 3 orang menjadi 10 orang kemudian menjadi 20 orang. Dari 20 orang menjadi 100 orang hingga akhirnya karyawan perusahaan mereka saat ini mencapi 5000 orang.
Ada tiga tantangan besar yang disampaikan oleh Bapak Sandiaga Uno, ketika kita ingin membesarkan usaha, yaitu:
  1. Akses ke Human Capital
    • Untuk memilih SDM yang cakap sangat diperlukan dalam mengembangkan usaha, dimana pendelegasian tugas dan tanggung jawab pekerjaan akan dapat berjalan dengan baik.
  2. Akses ke Market/Pasar
    • Market/Pasar akan mendorong kita untuk menjadi lebih besar, dengan naiknya permintaan pasar terhadap produk yang kita jual.
  3. Akses ke Modal/Capital
    • Kesulitan untuk akses kepada modal ini dapat ditutupi dengan kehandalan SDM dan pasar yang bagus. Modal akan mengejar kita dengan sendirinya.
Dan yang cukup penting juga adalah Mentorship, dengan mentorship ini kita dapat bertukar pikiran untuk mencari solusi atau terobosan-terobosan baru dalam mengembangkan usaha kita.

Dapatkan Trust Untuk Berkembang
Kunci Sukses : Dapat Dipercaya, demikian Bapak Dahlan Iskan menyampaikan tipsnya supaya bisnis kita berkembang. Dan ada satu lagi penyampaian beliau yang tidak kalah menggugah yaitu: calon pebisnis atau pengusaha yang menunggu modal uang terkumpul bukanlah entrepreneur.

Anjuran beliau jalankan usaha kita saat ini juga tanpa modal uang. Banyak calon pengusaha yang mundur dengan alasan modal ini, padahal banyak usaha yang dapat dijalankan tanpa harus mengeluarkan modal uang, hanya mengeluarkan modal karakter kita yaitu dapat dipercaya.
Sebagaimana ilustrasi beliau terhadap salah seorang kenalannya yang berjualan permen, yang dimulai dengan menjualkan dagangan permen orang lain hanya satu toples, yang akhirnya, dalam perjalanan dan perkembangan bisnis kenalan beliau tersebut mempunyai pabrik permen, dan bisnis-bisnis yang lainnya..seperti bisnis transportasi truk, berjualan gula, berjualan kopra, dan membuat pabrik minyak goreng...
Ketika satu pintu terbuka..dengan pengalaman kita dalam berusaha, ternyata diikuti dengan terbukanya pintu-pintu yang lainnya.
Hal ini juga pernah saya rasakan dan alami, sehingga saya berpendapat ketika kita menjual suatu produk, yang kita jual adalah diri kita sendiri. Ketika karakter yang kita jual adalah kebohongan maka produk yang kita jual juga akan penuh dengan kebohongan.



Business Lifecycle (Siklus Hidup Sebuah Bisnis)
Pak Nur Agustinus menyampaikan materi pembelajaran mengenai siklus hidup sebuah bisnis. Yang dengan materi ini kita dapat mengenali sudah sampai dimana posisi usaha yang kita jalankan. Disini Pak Nur menjelaskan bahwa: Siklus Hidup Usaha adalah dimulai pada fase Start Up, bisnis dimulai dari 0, dan akan memasuki pasar (time to market). Kemudian memasuki fase yang kedua yaitu Fase Introduction, dimana pada fase ini usaha sudah mulai dikenalkan kepada pasar. Setelah fase introduction ini, usaha semakin dikenal, semakin berkembang, mulai masuk kepada Fase Growth (Bertumbuh) dimana fase ini ditandai dengan usaha sudah mulai melewati titik impas dan mengalami keuntungan. Fase Growth ini juga ditandai dengan meningkatnya market share dengan sangat cepat. Keuntungan pada fase inilah yang dapat menjadikan usaha dapat bertumbuh. Setelah fase bertumbuh terlewati perusahaan akan masuk kepada Fase Maturity (Matang) ditandai dengan peningkatan market share yang sudah mulai sulit atau melambat, tetapi uang masuk (profit) banyak. Hal ini dikarenakan pelaku usaha ini sudah semakin ahli, sehingga dapat meminimalkan biaya produksi dari segala sisi (expert in economic of scale and scope).
Setelah fase maurity terlewati, perusahaan akan memasuki Fase Kemunduran, disini perlu kelihaian dari sang entrepreneur apakah akan melakukan inovasi atau terobosan baru atau tidak. Kalau sang entrepreneur melakukan inovasi dan terobosan baru maka perusahaan akan memasuki fase awal yang baru lagi, tetapi kalau tidak perusahaan akan dengan sendirinya mati.
Setiap fase-fase dari siklus hidup sebuah usaha diatas tentunya strateginya untuk bertahan berbeda-beda. Pada fase growth dimana perusahaan sudah mengalami keuntungan, profit tersebut harus dimanfaatkan secara bijaksana, lebih banyak kepada promosi untuk meningkatkan market share.
Ekspansi usaha lebih baik dilaksanakan pada Fase Maturity, dengan melakukan distribusi lebih luas misalnya dengan membuka cabang-cabang baru agar bisa mempertahankan dan atau meningkatkan profit usaha.







Aspek Pelanggan Dalam Mengembangkan Usaha

Pelanggan tidak dapat dilepaskan dari bisnis yang dijalankan. Pelanggan adalah pasar kita untuk mendapatkan profit, yang sangat dibutuhkan oleh bisnis yang kita jalankan untuk berkembang. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Sandiaga Uno, pelanggan/pasar akan mendorong kita untuk berkembang. Jadi pelanggan adalah esensi penting dalam mengembangkan usaha kita.

Selain sebagai sumber profit usaha, ternyata pelanggan dapat juga menjadi sumber inspirasi, informasi, dan inovasi dalam mengambangkan usaha sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Ciputra. Jadi masukan-masukan, saran, ide, ataupun keluhan pelanggan jangan dianggap sebagai hambatan dalam mengembangkan usaha kita. Yang saya alami saat ini, pelanggan saya akhirnya menjadi partner saya dalam mengembangkan usaha yang lain. Mengidentifikasi peluang dari pelanggan untuk bertumbuh demikian Bapak Antonius Tanan menyampaikan materinya.
Peluang dan pelanggan ini secara kreatif dapat kita kaitkan, seperti yang disampaikan oleh Bapak Antonius, peluang adalah pelanggan membawa uang datang berulang-ulang.

Untuk membuka peluang untuk bertumbuh ini, dapat dilakukan dengan membuka pasar yang baru dan atau membuat produk yang baru. Dengan membuka cabang-cabang ditempat lain misalnya. Hal ini memungkinkan terjadinya cross selling antara keduanya (Pasar Baru dan Produk Baru). Tentunya setiap perubahan yang kita lakukan dalam mengembangkan usaha kita pasti ada resikonya. Semua sisi dalam bisnis kita ini harus kita perhitungkan secara matang, tetapi jangan hanya berhitung kemudian tidak ada tindak lanjutnya. Keberanian mengambil resiko yang terukur adalah salah satu karakter penting seorang entrepreneur.


Demikian yang dapat saya sampaikan dalam jurnal refleksi minggu ke-2 ini. Insya Allah bermanfaat bagi saya pribadi dan rekan-rekan Onliners sekalian.








Kesimpulan Sederhana Saya

  • Jadikanlah bisnis yang anda jalankan tidak hanya mencari keuntungan semata tetapi tanamkanlah nilai-nilai didalamnya. Nilai-nilai ini dapat menjadi sumber inspirasi bisnis untuk berkembang, nilai-nilai yang nantinya dapat dianggap penting oleh pelanggan atau pasar usaha kita.
  • Mengembangkan usaha tidak lepas dari tantangan-tantangan dan resiko-resiko. Maka kenalilah ilmu untuk berkembang dari segala aspek yang mempengaruhi perkembangan usaha anda, seperti Sumber Daya Manusia, Pangsa Pasar, dan Permodalan. 
  • Dapatkanlah kepercayaan tidak hanya dari Angel Investor anda tetapi juga dari pelanggan anda. Pelanggan anda akan mendorong anda untuk berkembang jika anda dapat mengambil informasi, inspirasi, dan inovasi, untuk memperbaiki sistem usaha dan produk yang anda tawarkan ke pasar.
  • Bijaksana dalam mengelola cash flow usaha anda, dengan melihat siklus hidup sebuah usaha, anda akan tahu kapan anda berpromosi, membuka pasar baru dengan membuka cabang misalnya, ataupun mengembangkan produk baru. Ingat setiap perubahan dalam sistem usaha ataupun produk yang anda tawarkan mengandung resiko. Ukurlah resiko tersebut sesuai dengan kelayakan usaha kita. 

Bekasi, 26 Februari 2014

sumber:
Universitas Ciputra Entrepreneurship Online (UCEO) http://ciputra-uceo.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar