Jumat, 12 Desember 2014

Mayoritas Miliarder Dunia Keruk Kekayaan di Lima Industri Ini

Para orang kaya yang kendalikan 4 persen seluruh kekayaan dunia.

Jum'at, 24 Oktober 2014, 06:22
Warren Buffett, salah satu miliarder dunia
Warren Buffett, salah satu miliarder dunia(Business Insider)

VIVAnews - Jumlah total orang terkaya di bumi ini pada 2014 mencapai 2.325 orang. Mereka setidaknya mengendalikan 4 persen dari seluruh kekayaan di dunia.

Dilansir Business Insider, Kamis 23 Oktober 2014, laporan terbaru dari Wealth-X, menyimpulkan bahwa 13 persen dari miliarder itu mendapatkan kekayaan dari warisan keluarganya, 27 persen miliarder mendapatkan kekayaan dari menginvestasikan kembali warisannya, dan 60 persen miliarder mendapatkan kekayaan dari usaha mereka sendiri.

Lalu, bagaimana cara mereka menambahkan pundi-pundi kekayaannya?

"Peluang untuk mendapatkan keuntungan yang besar dalam waktu singkat tentu tidak di semua sektor industri. Tetapi, hanya di sektor industri tertentu yang menjadi sumber penting," demikian seperti dikutip dalam laporan terbaru itu.

Berikut adalah lima sektor industri utama di mana sebagian miliarder mendapatkan pundi-pundi keuangan.
1. Lembaga keuangan, bank, dan investasi (19,3 persen)

2. Aneka industri (12,1 persen)

3. Properti (7,1 persen)

4. Organisasi sosial dan non-profit (5 persen)

5. Industri tekstil (4,9 persen)

Dari data itu tentu tidak mengherankan, bahwa banyak juga miliarder yang meraup keuntungan di sektor penjualan aneka industri, terutama bagi mereka yang fokus di pasar negara berkembang. (ita)

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/550978-mayoritas-miliarder-dunia-keruk-kekayaan-di-lima-industri-ini
© VIVA.co.id


Apakah Uang Berkorelasi dengan Kebahagiaan? Ini Risetnya

Apakah betul uang bisa membeli kebahagiaan?

Selasa, 11 November 2014, 04:44
ilustrasi
ilustrasi (iStock)(iStock)

VIVAnews - Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan ini: uang tak bisa membeli kebahagiaan. Benarkah ungkapan tersebut? Apakah memang demikian kenyataannya?

Pakar strategi bisnis, Yodhia Antariksa, mencoba menjelajah hasil studi saintifik yang mengulik relasi rumit antara uang dan kebahagiaan. Berikut ulasannya, sebagaimana dilansirstrategimanajemen.net. 

Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga merupakan elemen krusial dalam kehidupan. Maka, menurut Yodhia, yang perlu ditelusuri terlebih dahulu adalah dua tema penting ini: uang dan kebahagiaan.

Studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan sejatinya telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal, dilakukan oleh Daniel Kahneman, pakar ilmu “financial psychology” yang juga pemenang nobel ekonomi 2002.

Dalam risetnya itu, ia menemukan fakta yang dikenal dengan istilah: income threshold. Inilah titik batas income yang akan menentukan apakah uang masih berdampak pada kebahagiaan atau tidak.

"Sebelum income menembus titik threshold itu, maka uang punya peran signifikan dalam menentukan kebahagiaan. Namun begitu income sudah menembus batas threshold itu, maka uang tidak lagi punya makna dalam menentukan kebahagiaan," papar Yodhia.

Lalu berapa titik income threshold itu? Dalam kajiannya yang melibatkan ribuan responden di Amerika Serikat, angka batas income itu adalah US$6.000 per bulan. Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka US$6.000 itu setara dengan angka Rp15 – 20 juta per bulan, jika diubah dalam konteks Indonesia.

Laporan penelitian itu, ia melanjutkan, meyebutkan bahwa sebelum income menembus angka US$6.000 per bulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan seseorang. Faktanya, beragam studi lain menyebut bahwa kondisi finansial yang terbatas merupakan salah satu pemicu utama stress dan depresi.

Namun, begitu income responden melampaui US$6.000, maka peran uang dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap.

Artinya, orang dengan income US$6.500 misalnya akan memiliki level kebahagiaan yang tidak berbeda dengan orang dengan income US$60.000 per bulan atau bahkan US$6 juta per bulan.

Dalam konteks itulah benar jika ada yang menyebut: semakin kaya Anda, belum tentu makin bahagia. "Studi Kahneman menegaskan bahwa makin tinggi income Anda, ternyata justru makin menurunkan peran variabel uang dalam menentukan kebahagiaan," kata Yodhia.

Pertanyaannya: kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?

Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama “hedonic treadmill”.

Untuk lebih mudah memahaminya, Yodhia menjelaskan bahwa hedonic treadmill ini adalah seperti ini: saat gaji Anda 5 juta, semuanya habis. Saat gaji Anda naik 30 juta per bulan, ternyata semuanya habis juga.

Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidup Anda pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilan Anda. Dengan kata lain, nafsu Anda untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income.

"Itulah kenapa disebut hedonic treadmill: seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju. Sebab nafsumu akan materi tidak akan pernah terpuaskan," kata Yodhia.

Saat income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Menurut Yodhia, hedonic treadmill membuat ekspektasi seseorang akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaan seseorang itu bisa stagnan, meski income makin tinggi. Sebab harapannya akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan income.

Ada eksperimen menarik: seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp5 miliar dilacak kebahagiaannya enam bulan setelah ia mendapat hadiah.

Apa yang terjadi? Enam bulan setelah menang hadiah Rp5 miliar, level kebahagaiaan orang itu sama dengan sebelum ia menang undian berhadiah.

Inilah efek hedonic treadmill: karena nafsu terus meningkat, kebahagiaan seolah berjalan di tempat, meski income melompat 10 kali lipat. Atau bahkan dapat hadiah 5 miliar.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti?

"Di sinilah letak relevansinya untuk terus mempraktekan gaya hidup yang minimalis, yang bersahaja, sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi," kata Yodhia.

Prinsip hedonic treadmill adalah: more is better. Makin banyak materi yang Anda miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai. Makin banyak mobil yang Anda miliki, makin bagus. Makin banyak properti yang Anda beli, makin kaya. Godaan nafsu kemewahan yang terus berkibar-kibar.

Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan: less is more. Makin sedikit kemewahan materi yang Anda miliki, makin indah dunia ini. Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip: hidup akan lebih bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough.

Menurut Yodhia, prinsip hidup bersahaja yang tidak silau dengan kemewahan materi, mungkin justru akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki.

"Sebab pada akhirnya, bahagia itu sederhana," kata Yodhia.
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/556648-apakah-uang-berkorelasi-dengan-kebahagiaan--ini-risetnya
© VIVA.co.id

Perbedaan Cara Pandang Orang Kaya & Orang Miskin

Orang kaya punya waktu. Bisa menunggu sampai orang lain terdesak.

Kamis, 20 November 2014, 14:06
Pengusaha muda. Foto ilustrasi.


Pengusaha muda. Foto ilustrasi.(Pengusaha)

VIVAnews - Cara pandang dalam berbisnis antara orang kaya dan orang miskin sangat berbeda. Perbedaan ini sulit dilihat karena ibarat pengendara motor yang tiba-tiba nyetir mobil, tentu akan belok kanan-belok kiri, selap sana-selip sini.

"Dia tidak sadar, ekor mobil lebih panjang dibanding sepeda motor," kata pakar entrepreneur Goenardjoadi Goenawan, Kamis 20 November 2014

Hal yang sama, kata dia, juga terjadi pada bisnis dan pengelolaan keuangan. Berikut perbedaannya:

Orang miskin:
Mengambil risiko dan eksposur, obyek yang rentan dengan risiko.  Coba lihat semua orang ambil KPR, dari rumah seharga Rp400 juta di-KPR-kan dengan Rp700 juta. Ini sangat berisiko.
Orang kaya:
Tidak mengambil risiko dan menghindari eksposur. Mudahnya kira kira begini, kalau uang Anda Rp200 juta maka Anda ingin menjadi Rp2 miliar. Tapi bila uang anda Rp5 miliar Anda harus melindunginya. Takut hilang. "Orang kaya secara otomatis mencari aman," katanya.

Jika punya uang Rp5 juta, Anda naik motor bukan? Supaya praktis. Kalau uang Rp5 miliar Anda cari mobil yang aman. Keamanan.

Jadi kalau Anda punya uang Rp5 miliar, lalu Anda ambil KPR Rp12 miliar itu sama saja dengan gaya orang miskin. Sangat berisiko.  Makanya, begitu ada perubahan peraturan Bank Indonesia soal uang muka KPR yang naik dari 30 menjadi 50 persen, ada yang langsung pingsan ambruk karena pasar properti anjlok, padahal kreditnya masih Rp50 miliar. 

"Itu karena gayanya masih suka mengambil eksposur," katanya.

Warren Buffet mengatakan kalau Anda ingin mengukur kedalaman danau, jangan turunkan kedua kaki Anda. Anda bisa kecebur dan tenggelam.

Ada pengusaha yang memiliki gudang di komplek industri yang aman. Ketika bisnisnya membesar dia pindah ke tanah kampung yang lebih besar, lebih murah, di pinggir gang. Ini konyol karena Anda sangat berrisiko terhadap inventory Anda sebesar Rp20 miliar. Ini bisa terbakar hanya gara-gara puntung rokok.

Ada pengusaha cat besar. Untuk mengembangkan, dia memproduksi thinner. Tapi ini salah. Karena sangat berrisiko. Thinner sangat mudah terbakar. Makanya, sekarang cat jarang yang menggunakan pengencer dari thinner.

Orang miskin:

Menomorsatukan kesempatan (opportunitydan mengambil eksposur. Orang kaya memiliki waktu. Dia akan menunda deal negotiations hingga pihak lain menjadi lapar dan terdesak.

Orang kaya:

Tidak mengutamakan opportunity. Tidak. Dia mengutamakan security. Mengindari risiko dan eksposur. Dalam negosiasi, orang miskin selalu melihat opportunity.  Orang kaya selalu mencari backdoor. Bagaimana keluarnya. Bukan mencari masuknya.

Misalnya ketika membuka gerai restoran, orang kaya memikirkan bagaimana caranya relokasi, orang miskin memikirkan bagaimana masuk dan mendirikan gerai.

Ada pengusaha yang punya empat cabang restoran di beberapa mal, semuanya mau ditutup, tapi tidak bisa karena tersangkut kontrak 5 tahun. "Ini mau nutup perusahaan sendiri saja tidak bisa karena terpaku kontrak, susah."


© VIVA.co.id
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/560340-perbedaan-cara-pandang-orang-kaya---orang-miskin



Selasa, 02 Desember 2014

MEA 2015, Pasar Bebas Asean Tawarkan Peluang Bisnis

Newswire Kamis, 06/11/2014 12:36 WIB

Ilustrasi Pasar Bebas Asean 2015/Colourbox
Colourbox
Ilustrasi Pasar Bebas Asean 2015
Kabar24.com, JAKARTA - Penerapan pasar bebas Asean 2015 menghadirkan banyak peluang bisnis, tetapi untuk menghadapinya harus ada perubahan mental, karakter, dan kualitas manusia.

"Penerapan Pasar Bebas Asean tersebut harus mengantar kita untuk melangkah ke satu hal, yaitu investasi di bidang manusia," ujar Direktur Human Capital Managemen PT Telkom Indonesia Tbk Priyanto Rudito.

Sejumlah pembicara dalam "2nd International Seminar and Conference on Learning Organization (ISCLO)" yang berlangsung Rabu (5/11) dan Kamis di Jakarta, mengemukakan penerapan Pasar Bebas Asean 2015 mendatang merupakan momentum menentukan langkah Indonesia di masa mendatang.

Kesiapan utama terletak di masing-masing negara di Asia Tenggara dalam melakukan investasi sumber daya manusia.

Priyanto yang merupakan salah satu pembicara mengatakan dengan Pasar Bebas ASEAN, praktis tak ada lagi hambatan barang, jasa maupun tenaga profesional yang bergerak antarnegara ASEAN karena itu diperlukan standar global agar perusahaan di Indonesia mampu bersaing dengan negara lain.

"Kami mengadopsi suatu ukuran yang namanya 'global mainset inventory'. Ini mirip indeks kesiapan, untuk membandingkan SDM dari negara lain," katanya.

Ukurannya, kata dia, skor I sampai V. Skor III disebut "global ready" atau siap secara global. Telkom menetapkan target pada tahun 2014 agar karyawannya bisa mencapai skor lebih dari III.

"Dan untuk bisa mencapai 'global ready' kami melakukan investasi di bidang SDM. Kami menyebutnya telkomers di Corporate University yang ada di Telkom," ujar Priyanto, Pada Pasar Bebas ASEAN nanti diprediksi dibutuhkan 14 juta pekerja profesional. Infrastruktur berbasis teknologi dalam konteks pendidikan menjadi salah satu pilihan.

"Di Telkom University ada namanya sertification, lembaga sertifikasi. Yang tentunya nanti di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA 2015 itu, pekerja dari luar negeri itu tidak bisa serta merta masuk di Indonesia tanpa ada sertifikasi Internasional dan kita semua harus siap," ujar Rektor Universitas Telkom, Prof Dr Ir Muhammad Ashari M Eng PhD, didampingi Deputi Senior GM Telkom Coorporate University, Setia Dwi Kusumawardhani. (Antara)
http://www.kabar24.com/international/read/20141106/10/235792/mea-2015-pasar-bebas-asean-tawarkan-peluang-bisnis